Terapi Tit Tar Mulai Banyak Peminat

harianmerahputih.id
Ignasius sedang melakukan terapi Tit Tar. Foto: Zul/HMP

MERAHPUTIH|Surabaya - Gangguan alat gerak sangatlah mengganggu apalagi yang berkaitan dengan tulang dan persendian,pastilah membuat pasien tidak bisa melakukan aktivitasnya seperti sedia kala.

Bukan hanya itu otot kaku juga memengaruhi gerak bebas seseorang. Seperti kecetit. Kondisi ini sangat mengganggu dan bahkan bila salah penanganan bisa menyebabkan makin parah.

Baca juga: Menkes Dorong Deteksi Dini TBC, Targetkan Penurunan Kematian Secara Signifikan

Terapi Tit Tar yang berasal dari China, bahkan telah dipelajari sejak abad 200 itu kini hadir di Surabaya. Adalah Ignasius Wijaya, seorang ahli tulang yang telah bersertifikat untuk melakukan prakteknya tersebut, mulai banyak dikenal dan diminati terapinya memaparkan metodenya.

Menurutnya Tit Tar merupakan terapi untuk mengembalikan tulang, sendi dan otot yang salah (misalignment) akibat postur dan kebiasaan yang buruk, trauma fisik seperti kecelakaan, jatuh atau olahraga.

"Terapi ini untuk mengembalikan struktur tulang pada posisi awalnya, karena kita tidak selalu duduk dalam posisi benar, jalan posisi benar. Jadi dikembalikan pada posisi awal," jelasnya kepada Harian Merah Putih, yang ditemui di kliniknya kawasan Rungkut Mejoyo, Surabaya ini.

Pria berkulit putih itu menceritakan hampir setiap hari ada saja pasien yang datang dengan keluhan yang hampir sama, yakni kecetit.

"Mereka yang mengeluh kecetit antara usia 35 tahun ke atas, dan rata-rata laki-laki. Kebanyakan dari pasien memang tidak merasakan adanya gangguan setelah usianya diatas 35 tahun baru terasa semua sakitnya," jelas Ignasius.

Di awal mengembangkan klinik terapinya ini, Ignasius sempat mengalami kendala, karena belum memiliki sertfikat. Namun ia tak patah arang, kemudian ia berguru ke Master Lily yang merupakan istri terapis terkemuka asal Malaysia, Chris Leong. Ia tak mau setengah-setengah mempelajari terapi tersebut. Karena menyangkut dengan keselamatan seseorang.

Lanjutnya, sejak lima tahun lalu Ignasius mulai praktek terapi ini. Namun saat itu hanya untuk menolong orang tanpa biaya. Kemudian awal tahun 2020 baru membuka praktik secara resmi dengan izin resmi pula. "Karena ini bergerak dalam bidang kesehatan jadi harus ada izin legal," imbuhnya.

Baca juga: Pemkot Surabaya Siaga Hadapi Lonjakan ISPA, Balita Jadi Fokus Utama

Hingga saat ini, terapi ini mulai banyak diminati. Untuk mengembalikan tulang pada posisinya, ia tidak membutuhkan waktu lama, yakni hanya 15-20 menit, struktur tulang pasien sudah kembali ke posisi semula.

Gerakan dalam terapinya ini memang hampir mirip dengan chiropractic yang berasal dari Amerika, tetapi terpai Tit Tar ini dikenalkan oleh tabib-tabib asal Tiongkok.

"Dulu tabib tidak hanya mampu mengobati dengan resep-resep herbal tetapi juga mampu memijat dengan tehnik ini," lanjutnya.

Akhirnya terapi Tit Tar yang juga banyak di Thailand ini sampai juga di Indonesia. Ignasius menyarankan bagi mereka yang memiliki kesibukan tinggi, sebaiknya rutin melakukan terapi ini. Setidaknya dalam jangka waktu satu hingga tiga bulan sekali, agar tubuh tetap fit, sebab tulang merupakan penyangga utama tubuh.

Baca juga: Paramesti Tak Takut Jarum Suntik: Cerita Anak-anak SLB N Semarang Jalani Cek Kesehatan Gratis

Bagi mereka yang tidak ada waktu melakukan terapi, saran Ignasius agar lebih sering melakukan stretching untuk menghindari otot kaku.

"Kalau otot kaku membesar bisa bertambah keras hingga menyenggol saraf. Jadi harus memperbanyak stretching, karena jika elastis ototnya bagus maka gak bakal gampang kecetit," pungkasnya. (zul/ayn)

 

 

Editor : Ayun Rahmawati

Politik
Berita Populer
Berita Terbaru