MERAHPUTIH|JAKARTA- "Gol pertama sah. Tapi gol kedua? Itu benar-benar sebuah keajaiban," kata Bobby, dikutip BBC Sport. (Sir Bobby Robson, pelatih Timnas Inggris).
Piala Dunia 1986 tidak akan dilupakan pendukung Inggris. Dalam sebuah serangan, Diego Armando Maradona berhasil mengelabuhi wasit dan dua asisten wasit dan menciptakan gol yang dikenal dengan nama ‘Gol Tangan Tuhan’. Gol yang sampai Maradona meninggal masih menjadi kejadian langka dalam dunia sepakbola. Jika saat itu sudah ada teknologi video assistant referee (VAR) seperti saat ini, jelas gol yang diciptakan Maradona tidak akan disahkan. Bahkan, wasit pasti akan memberikan kartu kuning atas kenakalan Maradona.
Baca juga: Marselino Absen di SEA Games 2025, Timnas U-22 Bergerak Cepat Siapkan Pengganti
Tapi itulah roh sepakbola. Penuh intrik dan drama sebagai bumbu pertandingan 90 menit plus injury time. Meski gol tangan Tuhannya diprotes dan diulas habis-habisan, tapi gol itu tertutupi dengan aksi brilian Sang Maestro. Gol kedua Maradona adalah master piece dan hingga kini dikenang sebagai gol istimewa yang menunjukkan skill dan talenta seorang Maradona.
Berlari dari setengah lapangan lebih, Maradona mengelabuhi enam pemain Inggris plus penjaga gawang. Sentuhan magis Maradona membuat puluhan ribu penonton memberikan penghormatan sundul langit. Maradona dielu-elukan bak Dewa. Luar biasa!
Postur tidak ideal (165 cm) menurut sejumlah kalangan untuk seorang atlet sepakbola bukan menjadi halangan bagi Maradona untuk beraksi di lapangan hijau. Gayanya yang flamboyan, caranya dribble bola, berlari menjadi ikonik dan banyak ditiru pesepakbola seantero jagat.
Maradona yang mencetak 259 gol dari 491 penampilannya di pertandingan profesional membuatnya dielu-elukan fans beratnya. Boca Juniors, Barcelona hingga Napoli pernah merasakan service brilian Maradona. Penonton enggan beranjak dari kursi stadion meski pertandingan sudah berakhir demi melihat idola mereka benar-benar hilang dari pandangan. Awesome.
Baca juga: Sambut Era Baru Sepak Bola Indonesia, PT LIB Perkenalkan Identitas Anyar: ILeague
Selang 34 tahun kemudian, Rabu, 3 Juli 2013, hujan rintik-rintik di Kota Pahlawan tidak menyurutkan Maradona memberikan coaching clinic kepada sekitar 70 pemain muda di Surabaya dan sekitarnya. Hujan tidak menghalangi Maradona memberikan pelajaran singkat bagaimana menggiring, menipu lawan hingga mencetak gol ke gawang. Sebelum memberikan pelajaran singat, Maradona melakukan pemanasan. Ia menimang-nimang bola, dribbling dan menunjukkan skillnya yang seolah tidak habis dimakan waktu.
Kemudian, Maradona larut dalam kebahagiaan bersama anak-anak usia belasan. Tawanya lepas, seiring hujan. Tawa dan cerianya pagi itu, seperti merayakan gol tangan Tuhan yang dibuatkan di Piala Dunia Meksiko 1986. Meski lapangan yang ada di Tugu Pahlawan basah dengan hujan Maradona larut dalam kebahagiaan. Dalam tawa seperti memenangkan Piala Dunia dan mengangkat Pialanya tinggi-tinggi.
Baca juga: Indonesia Tembus Putaran Empat: Satu-satunya Wakil Non-Arab di Jalur Terjal Piala Dunia 2026
Malam sebelumnya, Maradona terlihat berbinar ketika diundang di sebuah gala dinner. Dia menyapa warga Surabaya dengan wajah ceria. Dia lebih banyak tersenyum dan mengumbar tawa seiring alunan musik yang menyambutnya di panggung. Beruntung ketika itu saya bisa berbincang dengan Maradona. Saya sempat menyarankan untuk menikmati Black Soup (Rawon) kepada Sang Legenda dan ia mengangguk tanda setuju. Ah, sebuah kenangan indah bisa berbincang, berfoto, merangkul bahkan memeluk ‘Dewa’ sepakbola.
Dan........Tujuh tahun berselang, Sang Maestro, Legenda, Dewa sepakbola itu pergi untuk selama-lamanya. Maradona telah kembali ke tangan Tuhan. Adios Maradona. Dunia kehilangan dan pasti merindukanmu. (*)
Editor : Eko Yudiono