MERAHPUTIH|SURABAYA-Dunia sepakbola nasional utamanya Surabaya berduka. Mantan playmaker handal Persebaya di era 1980-an, Budi Juhanis meninggal dunia, Rabu sekitar pukul 04.00 WIB. Sebelum meninggal, Budi dikabarkan terkena stroke.
Kabar duka didapat harianmerahputih.id dalam unggahan media sosial rekan seangkatan Budi, Maura Hally. Dalam postingannya, Maura mengabarkan bahwa Budi yang juga pernah memperkuat klub internal Persebaya Indonesia Muda itu meninggal dunia.
Baca juga: Sambut Era Baru Sepak Bola Indonesia, PT LIB Perkenalkan Identitas Anyar: ILeague
Budi Juhanis adalah salah satu generasi emas dan gelandang elegan Persebaya. Ia bermain bersama Subangkit, Muharom Rusdiana juga pemain berjuluk si Kelapa Emas Syamsul Arifin.
Mahrus Afief, mantan kiper Persebaya menyebut, Budi Juhanis adalah pribadi yang menyenangkan. Ketika bermain, dia seolah tahu yang diinginkan pemain depan. "Saya waktu itu pernah satu tim saya almarhum, yaitu sekitar 1989," kenang Mahrus yang juga mantan pelatih kiper Persebaya itu.
Afief juga menyebut, enam bulan silam, ia bersama rekan-rekan pemain juga membezuk Budi di kediamannya di Surabaya. "Almarhum sebelumnya sudah sakit stroke. Ketika kami datang berkunjung. Dia terlihat sangat bahagia," sebut Afief.
Baca juga: Indonesia Tembus Putaran Empat: Satu-satunya Wakil Non-Arab di Jalur Terjal Piala Dunia 2026
Sedangkan eks striker Persebaya Mustaqim menyebut, Budi adalah gelandang yang punya style tersendiri. "Dia tahu keinginan striker, jadi bolanya pasti pas," ungkap Mustaqim. Ia menyebut pernah satu tim dengan Budi pada 1985/86 dan pada saat juara pada 1986/1987. "Yang pasti Budi adalah seorang jenius dan juga leader di lapangan dan tentu kami para pemain Persebaya sangat kehilangan," paparnya.
Baca juga: "Erick Thohir Warning Suporter! Jangan Cederai Harga Diri Bangsa Saat Hadapi China di GBK!"
Ibnu Grahan, mantan gelandang Persebaya mengaku sangat kehilangan dengan pemain yang dianggap juga sebagai mentornya itu."Gaya permainan Budi Juhanis menginspirasi para pemain gelandang. Ketenangannya dalam mengolah bola istimewa," urai Ibnu yang kini menjadi pelatih PSG Pati itu.
Setelah pensiun dari lapangan hijau apda 1990-an, Budi Juhanis lebih memilih bermain tenis untuk olahraga. Dia tidak terlihat berkumpul dengan rekan-rekan pemain yang masih sering berreuni di lapangan sepakbola. (red)
Editor : Eko Yudiono