Mas Didi, Aku Ambyar Se-Ambyar-ambyarnya

Alhmarhum Didi Kempot, The GodFather of Broken Heart. ANTARA
Alhmarhum Didi Kempot, The GodFather of Broken Heart. ANTARA

Kaget. Bahkan bisa dibilang kaget sekaget-kagetnya. Aku sempat tidak percaya mendengar kabar sampean meninggal dunia. Yang aku tahu, sampean adalah pekerja seni yang konsisten di jalurnya. Pekerja keras bahkan ketika musik campursari belum setenar dan diterima semua lapisan masyarakat seperti saat ini.

Mas, memang aku tidak mengenal sampean secara pribadi. Tapi mendengar lagu-lagumu jelas aku tak bisa lupa. Jujur aku salah satu “Sobat Ambyarmu” mas. Lagu-lagumu yang “ambyar” itu telah mendobrak dominasi musik apa pun selama dua tahun terakhir ini.

Dengan riang, sampean lantunkan kesedihan. Lagumu ibarat obat bagi siapa saja yang mendengarnya, utamanya yang lagi putus cinta, kasmaran atau dilanda rindu yang mendera ketika dua insan tengah jatuh cinta tapi dipisahkan oleh jarak dan waktu. LDR istilah anak milenial saat ini.

Seperti lagu “Banyu Langit” Mas. Liriknya sangat dalam. Siapa saja yang mendengarnya bahkan jika mereka tidak mengerti Bahasa Jawa pasti akan diam untuk mendengarkan. Ini penggalan lagumu mas.

Udan gerimis teles ono klambi iki (Hujan gerimis membasahi pakaian ini)

Jroning dodo ben ra garing ngekep janji (Dalam hati biar tak kering menjaga janji)

Ora lamis nggedhineng nggonku nresnani (Tak sekedar janji cintaku ini)

Nganti kapan aku ora biso bali (Sampai kapan aku tidak bisa pulang)

Siapa coba yang nggak menangis mas, ketika tahu arti penggalan lagumu. Seorang pecinta sejati yang hanya bisa menahan rindu untuk bertemu kekasihnya tidak bisa pulang karena suatu keadaan. Duh.......Ngelus dodo (sakit) mas.

Maka, ketika sampean ditasbihkan sebagai Bapaknya Musik Campursari Indonesia bahkan Dunia (The GodFather of Broken Heart) aku tidak seberapa kaget. Itu perjuanganmu sejak puluhan tahun lalu mas. Lagu-lagumua saat ini diterima semua kalangan masyarakat hingga kaum milenial aku juga tidak kaget.

Masih ingat aku ketika sampean menyanyikan lagu “Solo Balapan”. Dengan ciri khas rambut gondrong, lagumu kala itu mungkin terdengar ‘aneh’ bagi yang pertama kali mendengarnya. Lagu itu sampean ciptakan ketika mengamen di Solo pada 1989-an.

Inspirasinya ketika itu sampean lelah  setelah seharian mengamen dan istirahat di Stasiun Solo Balapan. Maka terciptalah lagu sensasional itu. Sampean begitu sederhana menjabarkan lirik lagu itu tapi begitu mengena dan menjadi lagu wajib semua kalangan ketika mengunjungi kota Solo. Meski awalnya terdengar aneh bahkan lucu, tapi sampean tidak menyerah. Sampean konsisten. Tetap berada di jalur seni musik campursari.

Tapi mas, sampean kok tega meninggalkan Sobat Ambyarmu sedemikian cepat. Aku tahu mas ketenaran bukan tujuanmu dalam berkesenian. Aku tahu betul meski sampai saat ini belum bertatap muka langsung dengan sampean. Di tengah Pandemi Covid-19, sampean tampil luar biasa. Donasi yang sampean sumbangkan tembus hingga 7,5 miliar. Wow.  Ambyar mas.

Mungkin itu juga sebagai isyarat sampean mau pergi untuk selamanya. Meretas karir dari bawah lalu tenar dan meninggalkan kenangan indah di tengah Pandemi Covid-19 itu  sesuatu yang “Ambar” mas. Apalagi coba? Sampean juga duta anti narkoba. Aku bahkan senyum-senyum sendiri ketika sampean diwawancara tentang pernah tidak mengkonsumsi narkotika. Dengan tegas dan senyum khas, sampean menjawab tidak pernah. Tapi tiba-tiba penonton yang mendengar dan melihat tayangan itu seketika senyum simpul ketika sampean ngomong pernah minum ciu. Heee.

Meninggalmu juga istimewa mas. Di hari ke-12 bulan Ramadan. Bulan penuh berkah dan ampunan.  Mas, aku sudah tidak bisa menulis apa-apa lagi tentang sampean. Terlalu banyak untuk diungkapkan dengan tulisan.

Tidak cukup meski aku tuliskan puluhan bahkan ratusan halaman. Yang jelas, sampean orang baik dan semoga Allah SWT menerima segala amal perbuatan sampean. Dimudahkan jalan sampean. Terima kasih untuk semua kenangan via lagu-lagumu. Aku bersaksi mas, Sampean orang baik. Aamiin. Innalilahi wainnailaihi rojiun. (*)

Selasa, 5 Mei 2020, Sobat Ambyar di Menganti sekaligus Jurnalis Harian Merah Putih dan harianmerahputih.id.

 

Editor : Eko Yudiono