Perjalanan Muhibah Khofifah Indar Parawansa di Kota Ur: Menapak Tilas Sejarah Nabi Ibrahim

Perjalanan muhibah Ketua Umum Muslimat NU, Khofifah Indar Parawansa, kali ini sampai di Kota Ur, sebuah kota di Irak tengah yang terletak di cabang Sungai Eufrat, sekitar 100 km selatan Baghdad.
Perjalanan muhibah Ketua Umum Muslimat NU, Khofifah Indar Parawansa, kali ini sampai di Kota Ur, sebuah kota di Irak tengah yang terletak di cabang Sungai Eufrat, sekitar 100 km selatan Baghdad.

MERAHPUTIH I KOTA UR IRAK - Perjalanan muhibah Ketua Umum Muslimat NU, Khofifah Indar Parawansa, kali ini sampai di Kota Ur, sebuah kota di Irak tengah yang terletak di cabang Sungai Eufrat, sekitar 100 km selatan Baghdad. Kota Ur ini berada di Provinsi Babilonia dan berdekatan dengan kota kuno Babilonia, yang dikenal sebagai salah satu pusat peradaban manusia di Mesopotamia kuno.

Kota ini diyakini sebagai tempat kelahiran Nabi Ibrahim sekitar 2000 tahun sebelum Masehi (SM). Ibnu Katsir melalui kitabnya, Bidayah wa al-Nihayah, menjelaskan bahwa Nabi Ibrahim lahir di Babilonia yang termasuk wilayah Irak. Dalam kitab yang sama, silsilah Nabi Ibrahim disebut sebagai Ibrahim bin Tarikh bin Nuhur bin Sarugh bin Raghu bin Faligh bin ‘Abir bin Syalih bin Arfakhsyadz bin Sam bin Nuh alaihissalam.

“Babilonia pada masa itu merupakan pusat kebudayaan dan kekuasaan di wilayah Mesopotamia yang kini menjadi bagian dari Irak,” kata Khofifah, Senin (3/6/2024).

Bersama rombongan, Khofifah singgah di kota tersebut untuk bermuhasabah dan menapak tilas kisah-kisah dari Nabi Ibrahim, yang melahirkan banyak keturunan nabi dan rasul, termasuk Nabi Muhammad SAW. Di kota yang diyakini sebagai tempat kelahiran Nabi Ibrahim tersebut, didirikan sebuah masjid. Dalam beberapa riwayat, dikatakan bahwa rumah Nabi Ibrahim juga berada di sana.

“Kelahiran Nabi Ibrahim di tengah-tengah peradaban yang maju menjadi landasan bagi peran pentingnya dalam menyebarkan ajaran tauhid. Kelahirannya di Babilonia membuat Nabi Ibrahim harus berdakwah di dunia yang penuh dengan penyembahan berhala dan menghadapi pemimpin yang zalim,” ujar Khofifah.

Dalam sejarah, Nabi Ibrahim hidup pada zaman Raja Namrud. Saat itu, masyarakat Mesopotamia hidup dalam masa jahiliyah, menciptakan patung-patung untuk disembah. Raja Namrud telah memerintah Babilonia selama 400 tahun, dan masa pemerintahannya yang panjang membuatnya penuh kesombongan, hingga mengklaim dirinya sebagai Tuhan.

“Saat pemerintahan Raja Namrud, dia pernah bermimpi tentang adanya seorang anak yang akan menggulingkannya dari tahtanya, sehingga dia memerintahkan pembunuhan semua bayi laki-laki yang lahir pada saat itu,” terang Khofifah. Namun, orang tua Nabi Ibrahim menyembunyikan putranya dalam sebuah gua untuk melindunginya dari ancaman tersebut.

Kisah Nabi Ibrahim dan Raja Namrud banyak disebutkan dalam Al Quran, terutama dalam beberapa surat seperti Al-Baqarah, Al-An'am, Al-Anbiya, Asy-Syura, Ibrahim, dan Hud. Nabi Ibrahim dikenal karena menghancurkan berhala-berhala masyarakat jahiliyah saat itu, termasuk berhala milik Raja Namrud. Tindakan ini membuat Raja Namrud sangat marah dan memerintahkan agar Nabi Ibrahim dibakar hidup-hidup.

Namun, dengan perlindungan Allah, Nabi Ibrahim tidak terbakar oleh api yang dinyalakan selama 40 hari. Dalam Alquran Surat Al Anbiya ayat 69, Allah berfirman: Kami (Allah) berfirman, “Wahai api! Jadilah kamu dingin, dan penyelamat bagi Ibrahim!”

“Meskipun Nabi Ibrahim mengalami pembakaran selama 40 hari, keajaiban terjadi saat ia sama sekali tidak mengalami luka bakar. Ini adalah bukti nyata atas pertolongan Allah yang luar biasa, yang memperlihatkan kuasa-Nya yang tak terbatas. Bahkan, dalam momen tersebut, banyak hewan juga turut membantu memadamkan api yang mengelilingi Nabi Ibrahim,” urai Khofifah.

Setelah api berhasil dipadamkan, kaum Kaldan yang sebelumnya sombong dan menganggap diri mereka kuat akhirnya tertunduk malu. Mereka harus menerima kekalahan yang begitu telak. Meskipun telah mencoba membakar Nabi Ibrahim selama 40 hari, nyatanya mereka tidak mampu menyakiti atau mengalahkannya.

Meskipun telah menyaksikan mukjizat ini secara langsung, hanya sedikit orang yang mengakui kebenaran dan kebesaran Tuhan yang diyakini oleh Nabi Ibrahim. Raja Namrud dan para pengikut setianya tetap sombong dan menolak untuk menerima ajaran yang benar.

Perdebatan antara Nabi Ibrahim dan Raja Namrud juga terjadi ketika Nabi Ibrahim dan rakyat Babilonia datang ke istana untuk meminta makanan dari Raja Namrud. Meskipun dalam perdebatan itu Raja Namrud kalah, Nabi Ibrahim pulang dengan tangan hampa. Namun, Allah memberinya rezeki yang lebih baik dan berlimpah.

Raja Namrud akhirnya mendapatkan azab dari Allah, termasuk serangan pasukan lalat atau nyamuk yang menyebabkan penderitaan bagi dirinya dan pengikutnya. Ini adalah contoh yang sangat kuat tentang bagaimana Allah SWT melindungi para nabi-Nya dan menghukum orang-orang yang zalim.

“Semoga kita bisa meneladani keberanian Nabi Ibrahim dalam memerangi kemunkaran. Ketaqwaan dan keimanan Nabi Ibrahim menjadi nyala api yang membuatnya berani untuk memerangi yang bathil dan berjalan membela agama Allah,” pungkas Khofifah. (red)

Editor : prass prasetyo