Sejumlah Vendor Geruduk PT Barata, Tuntut Pelunasan Utang Rp 2,4 Triliun
MERAHPUTIH I GRESIK — Merasa kecewa dengan janji yang tak kunjung dipenuhi, ratusan perusahaan yang tergabung dalam Aliansi Vendor Barata (AVB) mendatangi kantor PT Barata Indonesia (Persero) pada hari ini, Selasa (12/11) untuk menuntut pelunasan utang perusahaan pelat merah tersebut. Para demonstran yang membawa berbagai spanduk dengan pesan-pesan protes menarik perhatian masyarakat sekitar.
Aksi longmarch dimulai sejak pukul 08.30 WIB dari Gelora Joko Samudera. Para peserta yang berjumlah ratusan berjalan kaki menuju kantor PT Barata sambil membawa spanduk bertuliskan “Vendor terserang diabetes gara-gara Barata,” “Kau bunuh kami, Barata,” dan “Mana janji manismu.” Selain itu, perwakilan peserta aksi juga menaruh karangan bunga sebagai simbol protes di depan gedung perusahaan.
Sebelum dilakukan mediasi, para demonstran sempat melakukan orasi. Mereka mempertanyakan janji yang pernah disampaikan PT Barata untuk melunasi tagihan kepada para vendor. Para peserta aksi menyatakan bahwa ketidakmampuan PT Barata dalam memenuhi kewajibannya membuat para vendor kesulitan secara finansial.
Ketua AVB, Muhammad Nur, mengungkapkan bahwa beberapa proyek yang dikerjakan oleh vendor bahkan sudah selesai sejak tahun 2018, namun hingga kini pembayaran belum juga dilakukan. “Ada sekitar 200 vendor yang belum dilunasi tunggakannya oleh Barata, dengan total tagihan mencapai Rp 2,4 triliun,” ujar Muhammad Nur.
Ia menjelaskan bahwa berbagai upaya telah dilakukan untuk menagih pembayaran tersebut, bahkan sudah pernah melalui proses Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU). “Namun hingga sekarang belum ada hasil yang memuaskan, hanya janji-janji saja,” tambah Muhammad Nur.
Menurutnya, kondisi ini membuat banyak vendor berada dalam situasi keuangan yang sulit. Beberapa di antaranya terpaksa harus berutang untuk memenuhi kebutuhan operasional, bahkan ada yang terancam bangkrut karena belum menerima pembayaran dari PT Barata.
Hingga berita ini diturunkan, pihak PT Barata belum memberikan keterangan resmi terkait tuntutan para vendor. Media juga tidak diperbolehkan masuk oleh pihak keamanan perusahaan, dengan alasan masih menunggu keputusan dari pihak manajemen. (red)
Editor : prass prasetyo
Harian Merah Putih