Ramadan Lockdown

Suasana seperti ini yang selalu dirindukan ketika Ramadan tiba. HMP/Krisna
Suasana seperti ini yang selalu dirindukan ketika Ramadan tiba. HMP/Krisna

 

 

 HORW, Lucerne, Swiss Tengah,  pukul 20.10 waktu setempat. Fadil Idrizovic membuka pintunya. “Silahkan masuk,“ kata bapak dua anak itu.

Di atas meja ada sebotol minuman berwarna  kuning menyala. “Silahkan dicoba, minuman khas tanah air kami, menolak bisa membuat kami tersinggung,“ katanya sambil tertawa.  Tamu, seperti saya, yang tidak puasa, boleh mendahului untuk membasahi tenggorokan.

Dari dapur terdengar minyak goreng beradu dengan wajan. Cevapi, sosis dari daging giling sedang dalam proses pematangan. Bejta, istri Fadil, mengolahnya tanpa mencicipinya terlebih dahulu.  Hasnan, anak bungsu keluarga ini sedang memainkan  HP-nya. Persiapan iftar, buka puasa,  sedang berlangsung di rumah keluarga muslim Bosnia ini.

Pukul 20.44  tiba.  Semua mendekat ke meja. Ada salad dengan keju susu kambing, boreks isi daging , keju atau bayam yang digulung dengan semacam kulit lumpia, namun jauh lebih tipis. Lalu baklava, kurma, dan tentu saja cevapi.  Setelah berdoa, Fadil meminum satu tegukan  air putihnya. „Tegukan pertama adalah yang paling bagus,“ katanya.

Iftar, buka puasa di Swiss, karena mengikuti hitungan perputaran bulan,  jatuh bervariasi. Di sini, matahari tenggelam baru tiba  antara 20.34 di hari pertama puasa, hingga 20.53 menjelang idhul fitri tiba. ‘Semua itu soal pikiran. Kalau mikir akan lapar ya akan kelaparan,“ kata Fadil.

Di Swiss, puasa tanpa makan dan minum, dalam belasan jam, sering menjadi  gunjingan. Namun, seperti keluarga ini, puasa tetap dijalankan.  Dengan makanan melimpah, sebagaimana yang terlihat di meja makan keluarga ini.

Jika pun ada yang kurang, adalah sanak keluarga. Biasanya, anak dan menantunya, juga cucunya, yang menetap di Jerman, mengunjungi mereka. Corona menyebabkan silahturahmi itu gagal. Corona mengubah semua lini kehidupan, juga ritual Ramadan.

Bukan hanya kunjungan dari luar negeri yang terhambat, sholat tawarih, halal bihalal hingga itikaf, juga harus dibatalkan. Agung Bondan, laki laki asal Surabaya yang menetap di Zurich, mengakui hal itu. “Semua kami lakukan di rumah sekarang,“ katanya. Jika pun ada terasa yang hilang, ya itikaf. Agung biasanya melakukan itikaf di Imam Zentrum Volketswil, Zurich.  „Sekarang semua cukup online,“ katanya.

Komunitas muslim Indonesia di Swiss lainnya, juga melakukan hal serupa. Online, online dan online. Desrial Anwar, staf KBRI Bern yang juga dikenal sebagai pemuka agama, melakukan streaming melalui facebook dan zoom. “Ada baiknya juga, lebih banyak publiknya,“ kata Bondan.

Sejak lockdown diterapkan 15 Maret lalu, semua rumah ibadah di Swiss, dilarang melakukan kegiatan keagamaan. Gereja, Masjid dan sejenisnya kosong. Ditutup tidak, namun kegiatan yang lebih lima orang, dilarang. Meski pelonggaran sudah dilakukan, namun kegiatan rumah ibadah tetap tabu.

Organisasi Islam di Swiss mendukung penuh kebijakan Lockdown.  Onder Gunes, humas Federasi Lembaga Islam Swiss, mengatakan bahwa melindungi manusia itu anjuran Al Quran. Sementara tarawih bersama tidak. “Mana yang lebih penting, ya diutamakan,“ katanya.

Dengan adanya lockdown, imbuh Gunes, kedekatan antar anggota keluarga makin intensif. Dia berharap, umat muslim Swiss mematuhi hal tersebut. Hingga sekarang, tidak ada catatan pelanggaran dari komunitas Islam di Swiss sehubungan dengan lock down.

Masjid mereka, untuk sementara, ada di rumah masing masing. Sebagaimana di kediaman keluarga Idrizovic. (*)

Editor : Eko Yudiono