Ratusan Layangan Menari di Langit Sidoarjo: Ritual Sore di Pintu Tol Tambak Sumur

Ratusan orang dari berbagai usia anak-anak, remaja, hingga orang dewasa berbondong-bondong dari berbagai wilayah sekitar memenuhi lahan kosong yang berada di antara akses keluar-masuk tol menuju kawasan Juanda dan Pondok Tjandra.
Ratusan orang dari berbagai usia anak-anak, remaja, hingga orang dewasa berbondong-bondong dari berbagai wilayah sekitar memenuhi lahan kosong yang berada di antara akses keluar-masuk tol menuju kawasan Juanda dan Pondok Tjandra.

MERAHPUTIH I SIDOARJO - Langit sisi utara pintu keluar Tol Tambak Sumur, Sidoarjo, mendadak menjadi arena pertempuran udara yang meriah setiap sore, terutama saat akhir pekan. Ratusan orang dari berbagai usia anak-anak, remaja, hingga orang dewasa berbondong-bondong dari berbagai wilayah sekitar memenuhi lahan kosong yang berada di antara akses keluar-masuk tol menuju kawasan Juanda dan Pondok Tjandra.

Pada Jumat sore (18/7), lebih dari 200 layangan terlihat mengudara, menari bebas tertiup angin. Mereka tak sekadar menerbangkan layangan untuk bersenang-senang, tetapi juga saling mengadu ketangkasan dalam "pertarungan" layangan aduan. Layangan yang kalah, ditandai dengan benangnya yang putus akan melayang jatuh bebas (tebal istilah Surabaya), menjadi incaran para "pemburu".

Di balik keseruan ini, ada seni dan teknik tersendiri yang dikembangkan para pemain. Mereka berlomba-lomba menggunakan layangan aduan yang bagus, dipadu dengan benang gelasan—benang yang dilapisi bahan abrasif seperti bubuk kaca atau lem khusus agar tajam dan mampu memutus benang lawan.

"Yang penting bukan cuma bentuk layangannya, tapi kualitas benang gelasannya juga. Ada yang pakai gelasan dari Jawa, ada juga yang impor dari India," ujar Dimas (24), warga Waru yang rutin bermain di lokasi tersebut setiap akhir pekan.

Bahkan, pemain-pemain senior sudah memiliki insting tajam dan strategi khusus dalam membaca arah angin dan mengendalikan tarikan layangan saat beradu.

Tak sedikit pula yang membawa joran pancing atau batang bambu panjang, bukan untuk memancing ikan, melainkan untuk mengejar dan menangkap layangan putus. 

"Wergul" sebutan bagi pemburu yang jago mendapatkan layanan putus ini bisa dibilang seperti atlet di dunia perburuan layangan putus. Mereka tahu arah jatuhnya layangan dan lihai memungutnya lebih dulu dari yang lain," ujar Ruli, seorang pedagang minuman ringan yang setia berjualan di lokasi.

Tak kalah ramai dari arena bermain, sisi lain lapangan juga diramaikan dengan puluhan lapak penjual layangan dan aksesorinya. Dari layangan polos hingga model aduan berdesain tajam dijajakan dengan harga yang sangat terjangkau, mulai dari Rp2.000 hingga Rp5.000. Sementara benang gelasan ditawarkan dalam berbagai kualitas, dari harga Rp10.000 hingga mencapai Rp100.000 per gulungan.

"Kalau musim layangan begini, penjualan bisa naik drastis. Apalagi kalau hari Sabtu-Minggu sore, bisa laku ratusan biji," tutur Pak Joko, penjual layangan asal Gedangan.

Kehadiran para pedagang makanan dan minuman ringan, baik tradisional seperti cilok, papada, hingga es tebu, maupun modern seperti minuman kekinian berbasis susu dan kopi, menambah semarak suasana. Orang tua yang menemani anak-anak bermain pun bisa bersantai sambil menikmati camilan di bawah payung lapak.

Fenomena ini tidak hanya menjadi hiburan musiman, tapi juga menciptakan ruang sosial baru di tengah kawasan industri dan perumahan padat seperti Tambak Sumur dan Pondok Tjandra. Di sini, generasi berbeda bercampur, tanpa sekat sosial atau status ekonomi. Tak ada tiket masuk, tak ada peralatan canggih, cukup layangan, benang gelasan, dan semangat sore yang tak lekang oleh waktu.

Beberapa pemain bahkan menciptakan kode etik sendiri di udara. Layangan dengan ekor panjang disebut sebagai "layangan damai" yang tidak boleh diserang saat terbang diudara. Kode tak tertulis ini dipatuhi semua pemain sebagai bentuk penghormatan.

Meski lahan ini belum menjadi ruang terbuka publik resmi, masyarakat telah menjadikannya semacam taman bermain raksasa yang hidup dengan inisiatif warga. Tidak menutup kemungkinan, jika dikelola dengan baik, kawasan ini bisa berkembang menjadi destinasi komunitas kreatif yang bernilai ekonomis dan kultural.

Matahari perlahan tenggelam, tapi semangat di langit Tambak Sumur justru sedang mencapai puncaknya. Satu demi satu layangan saling mengejar, mengelak, dan bertarung. Seperti menandai bahwa di balik sederhana benang dan kertas, ada filosofi hidup yang terus terbang tinggi: tentang ketekunan, keberanian, dan harapan yang mengudara. (dpr) 

 

 

Editor : Redaksi