UNESA Dorong Kepelatihan Olahraga Berbasis IPTEK di Nganjuk

Fakultas Vokasi Unesa sukses menyelenggarakan pelatihan penyusunan program latihan cabang olahraga terukur berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) bagi guru pendidikan jasmani dan pelatih olahraga di Kabupaten Nganjuk.
Fakultas Vokasi Unesa sukses menyelenggarakan pelatihan penyusunan program latihan cabang olahraga terukur berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) bagi guru pendidikan jasmani dan pelatih olahraga di Kabupaten Nganjuk.

METRAHPUTIH I NGANJUK - Komitmen Universitas Negeri Surabaya (Unesa) dalam mengabdikan ilmu pengetahuan kepada masyarakat kembali mendapat pengakuan. Melalui Fakultas Vokasi, Unesa menggelar pelatihan penyusunan program latihan olahraga berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) bagi para guru pendidikan jasmani dan pelatih olahraga di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur.

Pelatihan yang berlangsung di SMP Negeri 1 Nganjuk, Minggu (20/7/2025) lalu, sebagai bagian dari program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM). Fokus utama pelatihan adalah penerapan pendekatan ilmiah dalam dunia kepelatihan olahraga, mulai dari pemanfaatan data hingga strategi analisis performa atlet.

Pembukaan kegiatan dilakukan oleh Kepala Bidang Kepemudaan dan Olahraga Disporapar Kabupaten Nganjuk, Samsodin, S.Pd., M.Pd. Dalam sambutannya, ia menyampaikan apresiasi terhadap inisiatif Unesa yang dinilainya sejalan dengan kebutuhan di lapangan.

“Ini adalah langkah maju dalam dunia kepelatihan olahraga daerah. Kami membutuhkan pendekatan yang lebih terukur, berbasis data, dan relevan dengan perkembangan zaman. Kehadiran Unesa dalam bentuk pelatihan ini sangat membantu kami,” ujar Samsodin.

Dari Fakultas Vokasi Unesa, hadir langsung Wakil Dekan 2, Dr. Abdul Hafidz, S.Pd., M.Pd., yang juga turut menyampaikan paparan mengenai arah dan tujuan pelatihan. Hafidz menekankan pentingnya peran teknologi dalam membentuk pelatih yang tidak hanya andal secara praktik, tetapi juga cakap dalam memanfaatkan data untuk pengambilan keputusan.

“Program studi Analisis Performa Olahraga yang kami miliki dirancang untuk mencetak pelatih profesional. Salah satu kemampuan utama yang kami tekankan adalah bagaimana pelatih dapat mengolah dan membaca data performa atlet, sehingga keputusan yang diambil berbasis pada hasil analisis yang valid,” ungkap Abdul Hafidz.

Ia menambahkan, pendekatan ini menjadi penting di tengah semakin tingginya tuntutan terhadap prestasi atlet, baik di level daerah maupun nasional. “Analisis performa bukan sekadar alat bantu, tapi sudah menjadi kebutuhan dalam proses pembinaan atlet yang berorientasi pada prestasi jangka panjang,” ujarnya.

Sesi materi utama disampaikan oleh dosen muda Unesa, Nafisa Arif Pambudi, M.Pd., yang secara rinci memaparkan bagaimana menyusun program latihan cabang olahraga terukur berbasis IPTEK. Dalam paparannya, Nafisa menekankan pentingnya keseimbangan antara teori dan praktik.

“Pelatih maupun guru PJOK tidak bisa hanya mengandalkan intuisi. Mereka perlu memiliki landasan ilmiah dalam menyusun program latihan, termasuk memahami prinsip fisiologi, periodisasi, hingga evaluasi berbasis data,” ujar Nafisa.

Pelatihan ini dirancang dalam format teoritis dan praktis. Peserta tidak hanya mendengarkan materi, tetapi juga terlibat langsung dalam praktik menyusun program latihan. Selama sesi praktik, peserta mendapat pendampingan dari para dosen Unesa seperti Tri Setyo Utami, S.Pd., M.Kes., dan Riski Septa Jatmikanto, M.Pd., yang memberikan arahan teknis dan memastikan pemahaman peserta berjalan optimal.

Salah satu aspek yang menjadi perhatian adalah bagaimana mengintegrasikan pendekatan ilmiah ke dalam konteks sekolah. Para guru diajak untuk menyusun program latihan yang sesuai dengan kondisi siswa di masing-masing sekolah, tanpa mengabaikan prinsip-prinsip sport science.

Respons positif pun mengemuka di akhir pelatihan. Para peserta menyambut baik materi yang disampaikan dan merasa mendapatkan perspektif baru dalam merancang program latihan yang lebih efektif. Beberapa guru bahkan menyebut pelatihan ini sebagai angin segar yang membangkitkan semangat mereka untuk terus belajar dan berkembang di bidang kepelatihan.

“Kami merasa terbantu sekali. Biasanya kami hanya menyusun program latihan berdasarkan pengalaman atau meniru dari pelatih lain. Tapi di sini, kami belajar cara yang lebih sistematis dan ilmiah,” ujar salah satu peserta yang enggan disebutkan namanya.

Tak hanya memperkuat kapasitas individu, kegiatan ini juga membangun jejaring profesional antarguru dan pelatih olahraga di Nganjuk. Diharapkan, jejaring ini akan menjadi forum diskusi dan kolaborasi dalam memajukan olahraga di tingkat lokal.

Kepala SMPN 1 Nganjuk, Samsodin, yang turut menjadi tuan rumah kegiatan, menyampaikan harapan agar kegiatan serupa dapat digelar secara rutin. “Ini bukan hanya tentang pelatihan sehari, tapi tentang membangun kultur pembinaan olahraga yang lebih baik di sekolah,” tegasnya.

Pelatihan ini menjadi cerminan sinergi antara dunia akademik dan kebutuhan praktis di lapangan. Fakultas Vokasi Unesa menunjukkan bahwa perguruan tinggi tidak hanya menjadi menara gading keilmuan, tetapi juga mitra strategis dalam mendorong transformasi di masyarakat.

Dengan semakin banyaknya pelatih dan guru PJOK yang terpapar pendekatan berbasis IPTEK, ekosistem olahraga di daerah seperti Nganjuk berpeluang besar untuk berkembang lebih profesional dan terukur. Dan dari titik itulah, prestasi olahraga daerah dapat tumbuh lebih solid dan berkesinambungan. (dpr)

Editor : Redaksi