Ribuan Warga Geruduk Alun-alun Pati, Tuntut Bupati Sudewo Lengser dari Jabatan
MERAHPUTIH I PATI – Suasana Alun-alun Kota Pati, Jawa Tengah, berubah menjadi lautan massa pada Rabu (18/8) pagi. Ribuan warga dari berbagai penjuru kabupaten berbondong-bondong memenuhi kawasan depan pintu masuk Pendopo Kabupaten Pati. Mereka datang bukan untuk merayakan pesta rakyat, melainkan mengusung satu tuntutan yang lantang: meminta Bupati Pati Sudewo mundur dari jabatannya.
Aksi ini digalang oleh tokoh masyarakat Husen bersama orator lapangan Syaiful Ayubi. Dalam orasinya, Syaiful tak segan menyebut Sudewo sebagai sosok pemimpin arogan yang tak lagi layak memimpin Kabupaten Pati.
"Kami datang untuk menyuarakan suara rakyat yang kecewa. Sudewo harus dilengserkan. Kita siapkan diri untuk bertahan hingga malam bila perlu," tegas Syaiful di atas mobil komando, disambut sorakan setuju dari ribuan warga yang memadati alun-alun.
Meski penuh semangat, ia tetap mengingatkan massa untuk menjaga sikap. "Tunjukkan bahwa warga Pati itu santun, berakhlak, cinta damai, dan tidak arogan," lanjutnya.
Dipicu Kenaikan Pajak dan Pernyataan yang Menyulut Emosi
Pemicu utama amarah warga adalah kebijakan Pemkab Pati yang menaikkan tarif Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan (PBB-P2) hingga 250 persen. Meski kenaikan itu merupakan batas maksimal dan tidak berlaku merata, ada yang hanya naik 50 persen bagi banyak warga, angka tersebut tetap dianggap memberatkan.
Namun, yang membuat bara kemarahan semakin membesar adalah pernyataan Bupati Sudewo yang dinilai merendahkan masyarakat. Dalam sebuah kesempatan, Sudewo disebut mempersilakan warga berunjuk rasa meski jumlahnya mencapai 5.000 atau bahkan 50.000 orang sekalipun. Bagi sebagian warga, ucapan itu terdengar menantang dan memicu gelombang perlawanan.
Di sela-sela aksi, warga menggelar gerakan donasi unik. Sepanjang trotoar depan pendopo, puluhan dus air mineral berderet rapi hasil sumbangan dari masyarakat. Simbol solidaritas itu terus bertambah seiring berjalannya waktu, bahkan memenuhi area sekitar Alun-alun Pati.
Sumbangan ini bukan sekadar logistik, melainkan penegasan bahwa mereka siap bertahan dalam aksi damai ini selama yang diperlukan.
Sejak pukul 08.00 WIB, ratusan aparat kepolisian telah berjaga di setiap sudut pintu masuk Alun-alun. Pengamanan ketat diberlakukan untuk mencegah aksi anarkis. Meski begitu, situasi pada pagi hari terpantau kondusif.
Hingga pukul 09.00 WIB, arus massa terus mengalir. Warga dari berbagai desa berdatangan untuk bergabung, membawa spanduk dan poster bertuliskan tuntutan mereka. Suara orasi berpadu dengan teriakan yel-yel perlawanan, membentuk atmosfer panas di jantung kota Pati. (red)
Editor : Redaksi
Harian Merah Putih