Golkar Gaspol Bidik Pemilih Muda Jatim, Bahlil: 73 Persen Usia Produktif Jadi Kunci 2029
MERAHPUTIH I SURABAYA – Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia, menegaskan arah baru konsolidasi partainya di Jawa Timur. Dalam pelantikan 38 DPD II Golkar se-Jatim di Jatim Expo, Minggu (15/2/2026), Bahlil mengingatkan seluruh kader untuk tidak sekadar bekerja rutin, tetapi melakukan lompatan inovatif guna merebut hati generasi muda pada Pemilu 2029.
Bagi Bahlil, kontestasi politik mendatang akan ditentukan oleh satu faktor dominan: usia produktif. Ia menyebut sekitar 73 persen pemilih pada Pemilu 2029 berada dalam rentang usia 17 hingga 50 tahun. Angka itu, menurutnya, bukan sekadar statistik, melainkan peta jalan strategi politik.
“Golkar harus mendekatkan diri ke generasi-generasi muda. Kita bicara tentang pemilu, pemilih usia 17 sampai 50 tahun itu 73 persen. Mau tidak mau Golkar harus mendekatkan diri kepada generasi-generasi ini,” tegasnya.
Sebagai Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil melihat energi politik anak muda sebagai modal sosial yang tak bisa diabaikan. Ia meminta struktur partai di Jawa Timur memperkuat basis pemilih usia produktif dengan pendekatan yang relevan, adaptif, dan terbuka terhadap gagasan baru.
Strategi Golkar, kata Bahlil, tak berhenti pada retorika kedekatan dengan generasi muda. Ia menekankan pentingnya memberi ruang promosi dan regenerasi nyata di tubuh partai maupun di jabatan publik.
Menurutnya, Golkar telah memberi contoh dengan menempatkan kader-kader muda di posisi strategis, mulai dari wakil menteri berusia 30 tahun hingga pimpinan komisi dan anggota DPR dari kalangan milenial.
“Di Golkar, wakil menteri ada yang usianya 30 tahun, pimpinan komisi dan anggota DPR juga banyak anak muda. Golkar sekarang lebih proporsional memberi ruang bagi generasi muda,” ujarnya.
Langkah ini dinilai sebagai upaya mematahkan stigma partai lama yang kerap diasosiasikan dengan dominasi elite senior. Bahlil ingin Golkar tampil sebagai partai modern yang mampu menjembatani pengalaman dan semangat muda dalam satu tarikan napas politik.
Tak hanya fokus pada generasi muda, Bahlil juga menekankan komitmen terhadap keterwakilan perempuan. Ia menyebut Golkar bahkan melampaui ketentuan Mahkamah Konstitusi yang mengharuskan 30 persen keterwakilan perempuan dalam alat kelengkapan dewan.
Menurutnya, kader perempuan Golkar tak hanya ditempatkan sebagai anggota, tetapi juga dipercaya memegang posisi strategis, termasuk sebagai pimpinan komisi dan Wakil Ketua DPR.
“Golkar tidak hanya menempatkan kader perempuan sebagai pimpinan komisi, tapi juga sebagai Wakil Ketua DPR. Ini lompatan yang lebih maju,” kata Bahlil.
Ia menilai, partisipasi perempuan bukan lagi sekadar memenuhi regulasi, melainkan kebutuhan politik modern yang menuntut keberagaman perspektif dalam pengambilan keputusan.
Pelantikan serentak 38 DPD II kabupaten/kota se-Jawa Timur disebut sebagai langkah konsolidasi struktural yang krusial. Bahlil menegaskan, tidak ada partai yang mampu bertahan tanpa penguatan mesin organisasi hingga ke tingkat daerah.
Jawa Timur, sebagai salah satu lumbung suara nasional, dipandang memiliki peran strategis dalam peta kekuatan menuju 2029. Karena itu, soliditas kader, kedisiplinan struktur, dan inovasi pendekatan politik menjadi tiga pilar yang ditekankan dalam agenda konsolidasi tersebut.
“Tidak ada partai yang bisa bertahan tanpa konsolidasi. Apa yang dilakukan Golkar Jawa Timur adalah langkah strategis menuju tujuan besar partai,” pungkasnya.
Dengan kombinasi regenerasi, penguatan peran perempuan, serta konsolidasi menyeluruh, Golkar menatap 2029 dengan strategi yang lebih progresif. Di Jawa Timur, pertaruhan dimulai sejak sekarang, membidik generasi produktif yang akan menentukan arah politik Indonesia lima tahun ke depan.(red)
Editor : Redaksi
Harian Merah Putih