Enam Tahun Nawa Bhakti Satya Jatim Cerdas: Infrastruktur Digenjot, Prestasi Nasional Dipertahankan
MERTAHPUTIH I SURABAYA - Memasuki tahun keenam implementasi program Nawa Bhakti Satya Jatim Cerdas, Dinas Pendidikan Jawa Timur (Dindik Jatim) membeberkan capaian sekaligus tantangan pembangunan sektor pendidikan di provinsi berpenduduk terbesar kedua di Indonesia tersebut. Fokus pembangunan tidak hanya pada akses dan pembiayaan, tetapi juga penguatan karakter, perbaikan infrastruktur, hingga penumbuhan ekosistem kewirausahaan di lingkungan sekolah.
Kepala Dindik Jatim, Aries Agung Paewai, menegaskan bahwa pendidikan menjadi tulang punggung pembangunan sumber daya manusia (SDM) Jawa Timur. Dengan skala satuan pendidikan yang masif, kebijakan harus dirancang presisi dan berbasis kebutuhan riil.
“Dengan jumlah satuan pendidikan yang besar, strategi pemerataan dan peningkatan mutu harus berjalan beriringan,” ujar Aries.

Data Dindik Jatim mencatat terdapat 439 SMA negeri dan 1.083 SMA swasta. Untuk jenjang kejuruan, terdapat 299 SMK negeri dan 1.868 SMK swasta yang tersebar di berbagai kabupaten/kota. Skala ini menuntut pengelolaan anggaran yang akuntabel dan berbasis data.
“Kami memastikan intervensi dilakukan berdasarkan kebutuhan riil di lapangan,” katanya.
Pada sektor pembiayaan siswa, Bantuan Siswa Miskin (BSM) terealisasi sebesar Rp46,826 miliar bagi 46.826 siswa. Sementara program Biaya Penunjang Operasional Penyelenggaraan Pendidikan (BPOPP) mencapai Rp1,274 triliun yang menyasar 1.312.512 siswa di 4.058 SMA, SMK, dan SLB.
Untuk pendidikan madrasah diniyah, BOSDA Madin disalurkan senilai Rp198,5 miliar bagi 111.785 siswa ula dan wusta di 38 kabupaten/kota. Skema pembiayaan ini disebut menjadi instrumen utama menjaga keberlanjutan akses pendidikan bagi keluarga kurang mampu.
Perbaikan sarana prasarana menjadi prioritas lain. Revitalisasi gedung sekolah tidak layak mencakup 215 SMA dengan anggaran Rp170,8 miliar, 175 SMK senilai Rp544,4 miliar, dan 67 SLB sebesar Rp56,3 miliar.
Memasuki 2025, rehabilitasi ruang kelas dilakukan pada 119 SMA dengan nilai Rp54,4 miliar, 86 SMK Rp27,3 miliar, serta SLB Rp13,4 miliar.
“Perbaikan infrastruktur menjadi bagian penting untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman dan layak,” tegas Aries.
Langkah ini dinilai penting untuk memastikan kualitas pembelajaran berjalan optimal, terutama di daerah yang sebelumnya mengalami keterbatasan fasilitas.
Di bidang penguatan karakter, Dindik Jatim menambah satu sekolah ketarunaan baru, yakni SMAN Taruna 2 Pamong Praja Bojonegoro. Dengan penambahan ini, total terdapat enam SMAN Taruna di Jawa Timur.
Menurut Aries, sekolah ketarunaan dirancang bukan sekadar mengejar prestasi akademik, melainkan membentuk kedisiplinan dan karakter kepemimpinan siswa.
“Sekolah ketarunaan ini kami desain untuk penguatan karakter, bukan sekadar capaian akademik,” ujarnya.
Dari enam SMAN Taruna tersebut, tercatat 249 siswa lolos ke perguruan tinggi negeri (PTN), 327 diterima di sekolah kedinasan, 79 di perguruan tinggi swasta, dan delapan siswa melanjutkan studi ke luar negeri.
Dalam bidang kompetisi, Jawa Timur konsisten berada di papan atas. Provinsi ini tercatat tiga kali berturut-turut menjadi juara umum Lomba Kompetensi Siswa Nasional (LKSN). Selain itu, Jatim juga meraih juara umum pada Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN), Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS3N), serta Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI).
Selama enam tahun terakhir, Jawa Timur juga menjadi provinsi dengan jumlah siswa terbanyak yang lolos ke PTN melalui jalur SNBP dan SNBT.
Capaian ini, menurut Dindik Jatim, menjadi indikator bahwa pemerataan kualitas pendidikan mulai menunjukkan hasil.
Tak hanya berorientasi akademik, Dindik Jatim juga mendorong produktivitas sekolah melalui Program SIKAP yang diikuti 754 SMA, SMK, dan SLB negeri maupun swasta. Program ini mengembangkan kegiatan pertanian dan peternakan berbasis sekolah.
Sementara itu, program SMA Double Track melibatkan 9.600 siswa di 144 lembaga. Hingga September 2025, total akumulasi pendapatan unit usaha siswa mencapai Rp4,7 miliar.
Untuk guru honorer, Program Terapan Ekonomi Kreatif Guru (Proteg) menjadi instrumen pemberdayaan ekonomi. Pendampingan dilakukan berkelanjutan agar guru memiliki tambahan penghasilan tanpa mengganggu tugas utama sebagai pendidik.
“Proteg dirancang untuk mendorong kemandirian ekonomi guru honorer tanpa mengurangi profesionalisme mereka sebagai pendidik,” kata Aries.
Sebagai bentuk apresiasi, pada peringatan Hari Guru Nasional, bantuan sosial bedah rumah diberikan kepada 20 guru dengan nilai Rp20–25 juta per orang.
Dalam ajang East Java Innovative Education Summit (EJIES) 2025, tercatat 24.626 pendaftar yang menghasilkan 19.720 karya inovasi pendidikan. Dari jumlah tersebut, 30 karya terpilih sebagai inovasi unggulan.
Berdasarkan data Badan Strategi Kebijakan Dalam Negeri, Jawa Timur melaporkan 1.723 inovasi pendidikan atau sekitar 29 persen dari total laporan inovasi pendidikan nasional.
“Capaian ini akan terus kami evaluasi agar benar-benar berdampak pada pemerataan akses dan peningkatan mutu pendidikan di Jawa Timur,” pungkas Aries.
Enam tahun berjalan, Nawa Bhakti Satya Jatim Cerdas tak hanya menampilkan deretan angka anggaran dan statistik prestasi. Di balik itu, pemerintah provinsi berupaya menata fondasi pendidikan yang merata, adaptif, dan berorientasi masa depan—sebuah investasi jangka panjang bagi generasi Jawa Timur.(dpr)
Editor : Redaksi
Harian Merah Putih