Percepatan Tanam di Madiun, Khofifah Tegaskan Jawa Timur Jaga Kedaulatan Pangan Nasional

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa bersama Bupati Madiun Hari Wuryanto turun langsung ke sawah melakukan tanam padi menggunakan transplanter riding pada gerakan Percepatan Tanam dan Panen Padi Tahun 2026 di Desa Gadong, Kecamatan Balerejo, Kabu
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa bersama Bupati Madiun Hari Wuryanto turun langsung ke sawah melakukan tanam padi menggunakan transplanter riding pada gerakan Percepatan Tanam dan Panen Padi Tahun 2026 di Desa Gadong, Kecamatan Balerejo, Kabu

MERAHPUTIH I KAB MADIUN - Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Madiun dengan menghadiri gerakan Percepatan Tanam dan Panen Padi Tahun 2026 di Desa Gadong, Kecamatan Balerejo, Kabupaten Madiun, Jumat (8/5). Dalam kegiatan yang digelar Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Timur itu, Khofifah bersama Bupati Madiun Hari Wuryanto dan Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Jatim Heru Suseno turun langsung ke sawah melakukan tanam padi menggunakan transplante riding.

Kegiatan tersebut menjadi simbol keseriusan Pemerintah Provinsi Jawa Timur dalam menjaga produksi pangan nasional di tengah ancaman perubahan iklim yang diprediksi lebih ekstrem pada 2026. Di lokasi panen dan percepatan tanam, Khofifah menegaskan bahwa keberhasilan sektor pertanian tidak hanya berbicara soal produksi, tetapi juga menyangkut stabilitas negara.

“Tadi saya tanya kepada Pak Bupati, harga gabah kering panen di Ngadirejo mencapai Rp7.500. Alhamdulillah, mudah-mudahan ini bisa memberikan penguatan kesejahteraan bagi para petani di Madiun dan Jawa Timur,” ujar Khofifah.

Menurutnya, Jawa Timur harus terus memperkuat perannya sebagai tulang punggung pangan nasional. Ia menyebut keberadaan alat dan mesin pertanian modern seperti transplanter dan drone pertanian menjadi bagian penting dalam peningkatan produktivitas petani.

“Kita ingin menjadi bagian yang membawa Indonesia bukan hanya berketahanan pangan, tetapi juga berkedaulatan pangan berkelanjutan. Daulat pangan itu penting bagi Indonesia,” katanya.

Khofifah bahkan menegaskan bahwa beras merupakan komoditas strategis yang memiliki dampak sosial dan politik sangat besar.

“Beras ini produk politik. Kalau orang tidak makan, bisa terjadi gejolak. Karena itu posisi beras harus aman, cukup, dan terjangkau masyarakat. Salah satu sistem pertahanan keamanan negara adalah keamanan pangan,” tegasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Khofifah juga memberikan apresiasi kepada para petani dan gabungan kelompok tani yang dinilai sebagai pahlawan pangan nasional. Ia mengajak seluruh masyarakat mendoakan para petani agar diberikan keberkahan dan hasil panen yang melimpah.

Suasana kegiatan berlangsung hangat ketika Khofifah menyelipkan doa dan pesan religius di hadapan petani. Ia mengajak seluruh peserta memaknai doa sebelum makan sebagai bentuk penghormatan terhadap seluruh proses produksi pangan, mulai dari petani hingga makanan tersaji di meja makan.

“Mudah-mudahan Allah memberikan produktivitas padi yang baik, tanaman sehat, bebas hama, dan penuh keberkahan,” tuturnya.

Khofifah juga menutup sambutannya dengan pantun yang langsung disambut antusias para petani dan undangan.

“Padi menguning, hijau daunnya. Tanah yang subur, tanam benihnya. Waktu memanen jadi momen bahagia. Wujud ketahanan pangan untuk Indonesia,” ucapnya disambut teriakan “cakep” dari peserta.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Jawa Timur Heru Suseno menjelaskan gerakan percepatan tanam menjadi strategi penting menghadapi ancaman iklim ekstrem tahun 2026.

“BMKG memprediksi panas tahun 2026 berbeda dengan tahun sebelumnya. Karena itu percepatan tanam menjadi langkah penting selain optimalisasi irigasi dan rehabilitasi jaringan air,” katanya.

Heru menjelaskan lahan yang ditanami bersama gubernur merupakan sawah yang baru dipanen tiga hari sebelumnya. Dengan dukungan alsintan modern dan pembenah tanah, proses olah lahan hingga tanam dapat dilakukan lebih cepat.

Ia menargetkan capaian luas tambah tanam Jawa Timur minimal mampu menyamai tahun 2025 yang mencapai sekitar 2,43 juta hektare. Bahkan, pemerintah daerah optimistis angka tersebut bisa meningkat.

“Strategi kami meliputi intensifikasi melalui alsintan, penggunaan benih unggul, serta proteksi tanaman agar terhindar dari serangan hama dan penyakit,” ujarnya.

Heru juga melaporkan bahwa Pemprov Jawa Timur telah menyiapkan dukungan APBD bagi Kabupaten Madiun berupa bantuan pertanian yang saat ini tengah diproses administrasinya untuk kelompok tani penerima.

Di sisi lain, Bupati Madiun Hari Wuryanto menyampaikan kehadiran Gubernur Khofifah menjadi suntikan semangat bagi para petani di wilayahnya. Ia menegaskan Kabupaten Madiun siap mempertahankan posisi sebagai salah satu lumbung pangan utama Jawa Timur.

“Kegiatan hari ini bukan sekadar seremonial panen, tetapi langkah konkret gerakan percepatan tanam,” ujarnya.

Hari menyebut Kabupaten Madiun memiliki luas sawah lebih dari 32.418 hektare dengan produksi rata-rata mencapai 480.264 ton gabah kering giling per tahun. Capaian tersebut menempatkan Kabupaten Madiun sebagai produsen beras terbesar keenam di Jawa Timur pada 2024 dan 2025.

Ia juga menyampaikan harga gabah saat ini cukup menggembirakan bagi petani, yakni berkisar Rp7.500 hingga Rp7.700 per kilogram dengan produktivitas rata-rata mencapai 6,9 sampai 7,2 ton per hektare.

Menurut Hari, dukungan pemerintah pusat dan provinsi sangat membantu peningkatan produksi pertanian di Kabupaten Madiun. Bantuan alsintan yang diterima pada 2025 seperti hand tractor, kultivator, power thresher, hingga combine harvester telah dimanfaatkan petani secara maksimal.

“Kami masih membutuhkan dukungan alsintan untuk pemerataan di desa-desa lain agar peningkatan produksi pertanian dapat berlangsung berkelanjutan,” katanya.

Sementara itu, Pelaksana Harian Dirjen Tanaman Pangan Kementerian Pertanian Tin Latifah menegaskan Jawa Timur memiliki posisi vital dalam menjaga swasembada pangan nasional.

“Sesuai arahan Presiden, swasembada pangan harus dipertahankan secara berkelanjutan. Jawa Timur adalah tulang punggung produksi nasional,” ujarnya.

Tin Latifah mengungkapkan pada Mei 2026 pemerintah menargetkan luas tanam nasional mencapai 1,7 juta hektare, dengan kontribusi Jawa Timur sebesar 238 ribu hektare. Ia optimistis target tersebut dapat tercapai melihat dukungan penuh dari pemerintah daerah dan petani.

Selain itu, Kementerian Pertanian juga menyiapkan bantuan benih untuk 60 ribu hektare lahan serta ratusan unit alat dan mesin pertanian, mulai traktor roda dua dan empat, transplanter riding, combine harvester, hingga bantuan irigasi perpompaan dan perpipaan.

Namun ia mengingatkan bantuan tersebut hanya dapat disalurkan jika daerah segera mengusulkan kebutuhan secara administrasi.

“Kami berharap seluruh daerah segera mengusulkan agar bantuan bisa segera dimanfaatkan petani untuk menjaga swasembada pangan,” katanya.

Tin Latifah juga mengingatkan pentingnya mitigasi risiko gagal panen akibat organisme pengganggu tanaman dan ancaman kekeringan. Menurutnya, prediksi peningkatan produksi padi Jawa Timur hingga lima persen pada semester pertama 2026 hanya bisa tercapai apabila ancaman puso berhasil ditekan.

Dengan gerakan percepatan tanam di Kabupaten Madiun tersebut, Pemerintah Provinsi Jawa Timur optimistis dapat menjaga stabilitas produksi pangan sekaligus memperkuat posisi Jawa Timur sebagai penyokong utama kebutuhan beras nasional.(pps)

Editor : Redaksi