Somad Instalatir Nakal, Cabut dan Jual Kembali Tiang Listrik Milik PLN
MERAHPUTIH | SIDOARJO - Kabar tak sedap akibat ulah Somad alias Mat Jais, alias Ragil (63), instalatir yang berkedok pegawai PLN terus menyeruak. Tindakan pencabutan tiang listrik besi juga beton, terkuak bahwa itu dilakukan inisiatif pribadi. Tampilan bak 'pegawai' PLN juga mobil yang dipasang tangga bertuliskan PLN Jawa Timur, dipakai alat untuk mengelabuhi dan melancarkan aksinya.
Informasi yang masuk dan hasil penelusuran harianmerahputih.id, warga Desa Ganggang Panjang, RW 2 RT 1, Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo ini disebut sudah puluhan tahun melakukan aksinya di berbagai desa. Ada dua atau tiga orang diajak beraksi.
Hasilnya, tiang listrik kemudian dibawa ke tukang las, dirawat baik untuk ukuran dan juga di cat sesuai keinginan pemesan. Di jual dan hasilnya masuk kantong Somad. "Iya, setelah di cabut dibawa di tukang las, dicat atau juga di tambah panjangnya sesuai pemesan," kata sumber yang mengaku paham dengan sepak terjang Somad.
Sumber itu juga menegaskan sudah banyak tiang listrik diberbagai wilayah di Sidoarjo yang dia dicuri. Dan banyak yang terpasang di berbagai tempat sesuai pesanan. Misalnya, ada tiang besi yang digergaji, salah satunya di Desa Karang Tanjung. Kemudian diangkut ke tukang las untuk dipermak, sesuai minat pemesan yang membelinya.
“Salah satu lokasinya di gudang kertas Desa Karang Tanjung. Satu tiang di luar gudang, satunya lagi ada didalam dan tidak jadi diambil karena posisinya," cerita sumber tersebut saat berbincang dengan harianmerahputih.
Di tempat terpisah, sumber lainnya juga menyebut tahu persis aksi yang dilakoni Somad memang sudah berlangsung sejak lama. Bahkan dia sempat melihat mobil pick up milik Somad saat melintas dengan mengangkut tiang beton, di Desa Kalisampurno.
“Saya pernah memergoki dia (Somad, red) melintas di Desa Kalisampurno. Saya menduga tiang-tiang listrik yang diambilnya pada saat itu dari wilayah Desa Ketapang,” kata lelaki itu.
Sumber berikutnya, saat ditemui juga membenarkan Somad punya keahlian bongkar-pasang tiang listrik. Memasang dan memperbaiki jaringan listrik, termasuk untuk perijinan. Lelaki itu mengatakan, dirinya pernah melihat Somad membawa tiang (listrik) beton. Menurut perkiraannya tiang itu diambil dari desa tak jauh dari tempat dia melihat saat kendaraan itu melihat.
“Dia (Somad, Mat Jais alias Ragil) itu memang spesialisnya. Saya pernah melihat mobilnya mengangkut tiang listrik yang terbuat dari beton, tapi tidak tahu diambil dari mana," katanya.
Pengakuan serupa juga dikatakan salah satu dari dua orang petugas lapangan Perusahaan Listrik Negara (PLN) dari Rayon Porong, Sidoarjo. Dia membenarkan sejak lama Somad melakukan pekerjaan itu.
“Ya, benar, namanya (Somad, red) pernah saya dengar. Yang banyak hilang (tiang listrik) di sekitaran wilayah luapan lumpur Lapindo,” ungkap lelaki yang ternyata pernah diajak bekerja dengan Somad, saat ditemui di sebuah warung kopi.
Menurutnya, tiang listrik itu biasanya dijual oleh Somad dengan harga berkisar Rp 3 juta per tiang. Untuk yang tiang beton harganya dikisaran Rp 10 juta, belum termasuk ongkos pemasangan dan instalasinya jika diorder oleh pemesan.
“Kabarnya dijual Rp 3 jutaan, kalau yang beton sampai Rp 10 jutaan," katanya.
Dari semua keterangan sumber ini bisa disimpulkan Somad bukanlah instalatir biasa, tapi instalatir “nakal” yang memanfaatkan 'label' dirinya sebagai petugas PLN. Nyatanya, identitas Somad seperti yang diungkap oleh Mifta, Kepala Kantor PLN Rayon Porong, dia bukan pegawai PLN.
“Dia itu (hanya) instalatir,” kata pria bergelar sarjana hukum yang juga sebagai anggota pengacara dari Perhimpunan Advokat Indonesia (Peradi) Kota Surabaya, melalui pesan berbasis aplikasi WhatsApp.
Saat ditemui di kantornya, Mifta menyebut pernah melihat langsung Somad dan timnya berkegiatan uteg-uteg tiang listrik di sebuah desa di wilayah Tanggulangin, sebelah barat. Termasuk juga melihat kendaraan roda empat berlogo PLN dipakai Somad. Beruntung, saat itu Somad hanya diperingatkan.
“Saat itu saya tanya dan saya minta dia turun. Saya sempat tegur dan peringatkan dia. Saya juga minta agar tulisan stikernya (pada mobil pick up) dilepas,” ujar Mifta, saat itu.
Layak, jika teguran sekaligus peringatan itu menjadi tamparan memalukan bagi Somad. Namun, faktanya, peringatan pimpinan perusahaan negara itu dianggap angin lalu. Lelaki yang pernah tinggal di Desa Ketapang itu masih menjalani aksinya. Seolah tak menghiraukan dan menjadikan pelajaran jika pekerjaannya berisiko hukum.
Bahkan, masih kata sumber diatas, meski bertetangga Somad tak segan 'mengerjai' jika menemukan ada yang bermain dengan aliran listrik. Modusnya, mengajak entah pegawai PLN betulan atau tidak untuk memungut 'denda'.
Modus pencurian yang dilakukan Somad tergolong nekad itu lantaran masyarakat dipastikan tidak tahu statusnya pegawai PLN betulan atau tidak. Aksinya ditunjang mobil pick up miliknya yang didandani bak PLN betulan. Kendaraan itu dimodifikasi sehingga tak ada beda dengan mobil PLN pada umumnya.
Hasil pantauan tim media ini juga ada mobil baru yang dimodifikasi lengkap dengan logo PLN. Mobil pick up itu dilengkapi tangga dan peralatan kelistrikan lainnya. Agar meyakinkan, kaca mobil bagian belakang terpasang stiker besar berlogo PLN. Di bak mobil sisi kanan dan kiri bertuliskan PLN Jawa Timur. Juga tertera nomor telepon pelayanan dan pengaduan.
Kendaraan itu terlihat oleh tim di rumah barunya, di belakang rumah lama. Kabarnya rumah itu dibangun dengan biaya tidak kurang dari Rp 1 miliar. Saat itu, rumah baru tersebut tampak sepi, pagar besi setinggi 2 meter tertutup. Dengan gaya itu, seratus persen masyarakat terkecoh jika kendaraan yang biasa dipakai beroperasi itu benar-benar milik pegawai PLN.
Kembali ke hasil jarahan tiang listrik milik PLN, untuk tiang besi dipoles dan dicat ulang. Tak jarang ada juga perlu “disulap” dengan cara dilas untuk menyambung dan menambahi bagian tertentu, yang dipastikan sesuai pemesan.
Untuk tiang beton, hanya dibersihkan. Jika ada yang cacat, permukaannya harus diratakan dan dipoles sehingga kembali mulus. Ada yang lebih menohok, yakni pengakuan tetangga dekat Somad, dia membeber ada sedikitnya 10 tiang listrik besi telah terpasang di area proyek pengeboran milik PT Lapindo. “Lokasinya di Desa Kesamben, Kecamatan Porong,” katanya.
Wajar jika muncul pertanyaan spekulatif kenapa pihak PLN yang notabene sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tak segera mengambil sikap? Padahal jelas sebagai pihak yang dirugikan. (timHMP)
Editor : Tudji Martudji
Harian Merah Putih