BI Jatim Stimulus UMKM Rebut Ekspor di Pasar Global
MERAHPUTIH | SURABAYA - Potensi produk ekspor di Jawa Timur sangat besar. Tentu hal perlu mendorong pelaku usaha dengan memanfaatkan pasar global. Potensi besar tersebut akan terwujud berbarengan dengan koordinasi yang telah dilakukannya dengan berbagai negara.
Hal ini terungkap melalui agenda sahring bertajuk 'Siap Raih Pasar Ekspor di Era New Normal. Kepala Perwakilan BI Jatim, Difi Ahmad Johansyah, mengaku akan terus berkoordinasi dengan Kantor Perwakilan BI di luar negeri seperti Tokyo, Singapura, dan Beijing.
"BI juga terus berkoordinasi dengan perwakilan dagang di Australia dan negara lain untuk menjajaki potensi ekspor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM)," kata Difi, Jumat (25/6).
BI berharap, Indonesia bisa mengikuti jejak negara lain seperti Vietnam, Thailand, Korea, dan Turki yang telah terbiasa melakukan ekspor yakni menyediakan fasilitas terutama bagi UMKM agar bisa melakukan ekspor.
Mochamad Yatim dari Kantor Wilayah Bea Cukai Jatim mengatakan bahwa terdapat fasilitas diberikan oleh dirjen bea cukai terhadap UMKM yang telah memenuhi persyaratan untuk menjadi IKM ekspor. Fasilitas itu berupa KITE IKM.
Melalui fasilitas ini, Dirjen bea cukai bukan saja kepada pengusaha besar namun juga kepada pelaku usaha kecil (IKM). Pihaknya, menurut Yatim berkomitmen memfasilitasi kegiatan ekspor IKM, berupa pembebasan mesin, pembebasan bahan baku dan pembebasan barang-barang contoh, termasuk adanya fasilitas PLB yang berfungsi sebagai tempat pameran pemasaran produk.
Sementara Fernanda Reza dari Free Trade Agreement (FTA) Center Surabaya menjelaskan organisasinya dibentuk sebagai upaya meningkatkan ekspor. Mereka berusaha melakukan percepatan penyelesaian perjanjian perdagangan dengan negara lain, agar Indonesia memiliki daya saing yang tidak kalah dengan negara lain.
Guna persiapan Indonesia Australia - CEPA (IACEPA) mulai 5 Juli 2020, pihaknya menghimbau semua pelaku usaha untuk melakukan kegiatan ekspor ke Australia.
"Untuk produk Indonesia tarifnya 0% masuk ke Australia, dan impor Indonesia ke Australia masih lebih besar ketimbang ekspornya," jelasnya.
Namun, Pandemi COVID 19 ini, telah menyebabkan perdagangan global turun tahun ini, dan bahkan pertumbuhan ekonomi negara besar banyak yang sudah minus. Berimbas ekspor Indonesia juga menurun.
Ia berharap ekspor Indonesia akan naik, apalagi Australia sudah banyak menanamkan investasi di Indonesia." Tapi dalam hal industri pengolahan masih kurang bersaing dibanding Indonesia, dan inilah menguntungkan Indonesia," ujarnya.
"Bahan baku yang diinvestasikan Australia akan diolah di Indonesia dan hasilnya akan di ekspor ke Australia dan negara lainnya," timpal Reza ini. (ton/tji)
Editor : Tudji Martudji
Harian Merah Putih