Hotel 88 Surabaya Jadi Tempat Karantina Pasien Covid-19, Benarkah?

Suasana Hotel 88 Jalan Embong Malang, Minggu (2/8) malam. (Foto HMP/Anton)
Suasana Hotel 88 Jalan Embong Malang, Minggu (2/8) malam. (Foto HMP/Anton)

MERAH PUTIH|Surabaya – Berbagai upaya dilakukan guna memutus mata rantai penyebaran virus corona baru (Covid-19). Di Surabaya, misalnya. Warga yang reaktif Covid-19 dari hasil rapid test diimbau untuk isolasi mandiri di hotel. Ada beberapa hotel yang ditunjuk Pemkot Surabaya. Kabar yang beredar, salah satunya Hotel 88 di Jalan Embong Malang, Surabaya. Benarkah?

Kabag Humas Pemkot Surabaya Feriadhitya Prajatara mengatakan warga yang menjalani rapid test dari Pemkot dan hasilnya  reaktif akan menjalani isolasi di hotel yang sudah ditunjuk. “Selama dia warga kota Surabaya, nanti kalau ada rapid test dan hasilnya reaktif, memang harus (dibawa ke hotel, red),” kata Febri saat dihubungi Harian Merah Putih, Minggu (2/8).

Febri menjelaskan warga yang diisolasi itu sambil menunggu hasil swab test. Seperti saat pemkot melakukan hal itu pada peserta Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK), Juli lalu. “Nunggu hasil swab test-nya, ketika dia reaktif dia harus ditaruh di hotel. Warga dan peserta di sana menunggu hasilnya, sampai hasil swab tesnya keluar,” terang dia.

Kalau hasil tes swab positif, mereka yang sudah menginap di hotel itu akan dirujuk ke RS untuk tindakan lebih jauh. Namun terkait lokasi hotel, Febri enggan menyebutkan detilnya. “Kalau di Surabaya kan ada hotel yang nanti didampingi sama Dinas Kesehatan Surabaya. Kami masih belum dapat datanya (peserta reaktif) nanti saya tanyakan ke Dinkes,” cetus Febri berkelit.

Sementara itu, mantan Wakil Sekretaris Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kota Surabaya Irvan Widyanto saat dikonfirmasi detail keberadaan hotel yang ditunjuk pemkot jadi tempat isolasi bagi warga kedapatan reaktif yang di tempatkan di hotel sebagai isolasi. Mantan Kasatpol PP tersebut juga enggan merespon konfirmasi Harian Merah Putih.

Sebelumnya, Wakil Ketua Komisi A DPRD Surabaya Camelia Habibah mengungkapkan Pemkot Surabaya melakukan langkah cepat melakukan rapid test hingga kampung-kampung. Sesuai prosedur kesehatan harus, mereka yang positif tersebut harus diisolasi. Salah satu yang ditempuh, menurut Habibah, Pemkot Surabaya menyewakan hotel agar mereka terpisah dari keluarga dan warga. Tujuannya untuk memutus mata rantai.

Politisi perempuan di Fraksi PKB itupun penasaran dengan langkah Pemkot memesankan banyak kamar hotel untuk warganya. Habibah pun bersama pegawai BPD Linmas meninjau kondisi salah satu hotel yang sudah dibooking itu. "Sudah 222 kamar hotel dibooking Pemkot untuk warganya yang reaktif saat rapid test. Ini langkah konkrit, tapi harus dilakukan dengan prosedur yang tepat. Jangan sampai ada klaster baru di hotel," kata Habibah beberapa waktu lalu.

Manajemen Hotel 88

Informasi yang diperoleh Harian Merah Putih, salah satu penginapan itu Hotel 88 Jalan Embong Malang, Surabaya. Sales Representatif Hotel 88 Embong Malang, Farida, yang dikonfirmasi mengenai hal itu enggan memberi tanggapannya.

Namun Metty Yan Harahap, Corporate Director of Marketing Waringin Hospitality mengatakan bahwa Hotel bintang dua ini beradaptasi terhadap kondisi pandemi dengan mengeluarkan beberapa kebijakan. Salah satunya, menurut Metty, pihaknya telah menawarkan paket sehat untuk isolasi mandiri seharga Rp 2,7 juta serta paket room only. Harga sewa kamar juga dikurangi. Kamar tipe superior yang semula Rp 350.000 disusutkan menjadi Rp 250.000.

Hal itu dilakukan, menurut Metty untuk mengembalikan perekonomian perusahaan di tengah merosotnya  pengunjung untuk singgah menggunakan jasa hotel.

Untuk diketahui, Waringin Hospitality merupakan pemilik dan pengelola dari jaringan Hotel 88 di Indonesia.

Update Covid-19

Kasus positif virus korona (covid-19) di Indonesia masih bertambah di atas 1.500 kasus per hari. Tercatat, ada penambahan 1.519 kasus per Minggu (2/8) kemarin. “(Akumulasi) kasus terkonfirmasi 111.455 kasus,” dikutip dari www.covid19.go.id.

 Pasien sembuh covid-19 juga bertambah 1.056 orang menjadi 68.975 orang. Sementara, kasus meninggal bertambah 43 orang menjadi 5.236 orang.

Kasus suspek terpantau 62.366 orang. Suspek merupakan istilah pengganti untuk orang dalam pemantauan (ODP) dan pasien dalam pengawasan (PDP).

Akumulasi kasus terbanyak berada di Jawa Timur sebanyak 22.504 kasus. Kemudian, DKI Jakarta dengan 22.144 kasus, Jawa Tengah dengan 9.732 kasus, dan Sulawesi Selatan dengan 9.647 kasus.

Virus ini telah menyerang provinsi dengan total 478 kabupaten di Indonesia. Virus merebak di Indonesia sejak 2 Maret 2020. (ton/red)

Editor : Ali Mahfud