Banyak Jalan Berlubang di Suramadu, Keselamatan Publik Terancam

MERAH PUTIH|Surabaya – Jembatan Suramadu merupakan jalur darat satu-satunya yang menghubungkan Kota Surabaya dan Pulau Madura. Bahkan, jembatan yang didanai APBN Rp 5 triliun itu menjadi favorit warga. Apalagi setelah Presiden Joko Widodo membebaskan biaya masuk jembatan Suramadu baik bagi roda dua maupun roda empat. Namun, hati-hati karena sepanjang jembatan ini rawan risiko kecelakaan dan menelan korban jiwa.

Jalur Suramadu itu tak sedikit memakan korban bagi pengendara roda dua, lantaran kurangnya perawatan jalan yang dilakukan oleh Balai Pengawasan Wilayah Suramadu (BPWS).

Hal itu seperti yang disampaikan oleh Mujib warga Bangkalan, Madura. Pria yang keseharianya berjualan di setelah pintu keluar jembatan Suramadu arah Madura itu mengaku bahwa memang banyak jalan yang berlubang di sepanjang jembatan Suramadu.

"Ya memang banyak lubang ketika kita lewat jembatan Suramadu, baik itu dari arah Surabaya atau dari arah Madura," kata Mujib kepada Harian Merah Putih, Senin (3/8/2020).

Mujib berharap agar pemerintah yang memiliki tanggungjawab dalam melakukan perawatan jalan akses jembatan Suramadu segera melakukan perbaikan, untuk meminimalisir terjadinya kecelakaan lalulintas.

"Ya harapan kami pemerintah segera melakukan perbaikan terhadap jalan yang rusak, agar mengurangi resiko kecelakaan. Apalagi jalur roda dua itu kan sempit, jadi kalau pengendara tiba-tiba banting setir untuk menghindari jalan berlubang tentunya sangat bahaya sekali," ungkap pria yang sering melakukan perjalanan Surabaya-Madura itu.

Sementara itu, Ahmad warga Sukolilo Bangkalan malah mengeluhkan terkait lambatnya penanganan korban kecelakaan yang terjadi di jembatan Suramadu.

Menurutnya, penanganan korban kecelakaan berbeda ketika masih diberlakukan pembayaran ketika melintas di jembatan Suramadu.

Ia mengisahkan, pada bulan Ramadhan kemarin tetangganya ada yang mengalami kecelakaan di jembatan yang menghubungkan antara Pulau Jawa dan Pulau Madura itu.

Karena lambatnya mobil ambulance, akhirnya nyawa tetangganya itu tidak dapat tertolong. "Kalau saya mengeluh tentang kurang cepatnya penanganan korban kecelakaan. Karena sekarang tidak ada ambulance yang siaga. Beda dulu ketika masih bayar, penanganan korban kecelakaan sangat cepat karena ada petugas dari kepolisian dan ambulance yang selalu siaga. Kalau sekarang kan ndak ada. Wong tetangga saya kemarin ditolong oleh ambulance yang ada di Pos Covid-19, dan itupun datangnya lama sekali, sehingga nyawa tetangga saya tidak dapat ditolong," keluhnya. (her)

Editor : Ali Mahfud