Tahun 2019 BNI Cetak Laba Rp15,38 Triliun

Aktivitas Bank BNI di Surabaya (Foto:  HMP/Prasetyo)
Aktivitas Bank BNI di Surabaya (Foto: HMP/Prasetyo)

MERAHPUTIH | JAKARTA - Ini prestasi yang menggembirakan dalam catatan perbankan, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) berhasil meningkatkan laba bersih 2,5% menjadi Rp 15,38 triliun di tahun 2019 dibandingkan periode yang sama tahun 2018. Peningkatan itu juga semakin memperkokoh pertumbuhan bisnis luar negeri perseroan. Bagi BNI, Bisnis Internasional dapat diandalkan dan membanggakan. Itu menjadi pembeda dengan perbankan lainnya yang berbasis pada pembiayaan korporat di Indonesia,

BNI tidak hanya merupakan bank korporat yang melayani nasabah lokal, melainkan juga untuk nasabah lokal yang beranjak menjadi global. Dari seluruh nasabah korporat BNI, ada sebanyak 15 hingga 25% di antaranya adalah pebisnis global. Untuk itu, keberadaan kantor BNI Cabang di luar negeri sangat diperlukan guna memenuhi kebutuhan transaksi para nasabah BNI yang bermain di kancah global.

Pertumbuhan kredit BNI berada di atas pertumbuhan kredit industri yaitu sebesar 6,5% hingga Oktober 2019. Dengan capaian itu BNI mencatatkan Pendapatan Bunga Bersih (NII) sebesar Rp 36,6 triliun pada akhir tahun 2019 atau tumbuh 3,3% dibandingkan periode yang sama tahun 2018 sebesar Rp 35,45 triliun. Pertumbuhan NII juga mampu menjaga ROE di posisi 14% untuk akhir tahun 2019.

Kredit BNI ke Segmen Kredit Kecil

Untuk diketahui, kredit BNI juga tersalur ke segmen pelaku usaha Kredit Kecil (KK), yang pada Desember 2019 tumbuh 14,2% menjadi Rp 75,4 triliun dari sebelumnya Rp 66,06 triliun pada Desember 2018. Pertumbuhan yang menonjol terjadi saat penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang meningkat sebesar 20,7% yoy, yaitu dari Rp 20,22 triliun pada tahun 2018 menjadi Rp 24,42 triliun pada 2019.

Penyaluran kredit ke Segmen Kredit Konsumer itu pun terus tumbu, yaitu sebesar 7,7% yoy diatas tahun 2018 menjadi Rp 85,87 triliun. Dimana Kredit Tanpa Agunan masih menjadi kontributor utama terhadap pertumbuhan kredit konsumer BNI, yaitu tumbuh 11,7% yoy menjadi Rp 2,7 triliun.

Tak hanya itu, BNI juga fokus pada penyaluran kredit pemilikan rumah atau BNI Griya karena komposisi kredit ini terhadap total Kredit Konsumer mencapai 51,4% atau mencapai Rp 44 triliun. BNI Griya tumbuh 8,3% yoy berkat berbagai perbaikan yang telah dilakukan antara lain ekspansi pada kaum milenial selaras dengan program pemerintah.

Kredit BNI juga tersalurkan ke Segmen Kredit Korporasi yang tumbuh 9,8% yoy. Kredit korporasi terutama disalurkan ke sektor usaha manufaktur, serta listrik, gas, dan air. Pinjaman infrastruktur masih menjadi salah satu prioritas dalam menumbuhkan pinjaman segmen bisnis korporasi ini, salah satunya adalah proyek jalan tol. Pembiayaan jalan tol yang dilakukan BNI difokuskan pada ruas-ruas tol dengan tingkat LHR yang tinggi, terutama ruas-ruas tol di Pulau Jawa.

Pendapatan Non Bunga Bisnis

BNI pun terus berjalan dengan dukungan atau tumbuh 18,1% di atas periode yang sama tahun 2018 sebesar Rp 9,62 triliun. Pertumbuhan FBI ini ditopang oleh pertumbuhan recurring fee sebesar 17,7% yoy. Sekitar 27,4ri FBI yang terhimpun, berasal dari aktivitas bisnis internasional BNI melalui kantor-kantor BNI cabang luar negeri.

Kenaikan FBI dikontribusi oleh pertumbuhan pada Segmen Konsumer Banking, yaitu komisi dari pengelolaan kartu debit yang tumbuh 39,6%; komisi pengelolaan rekening yang naik 16,3% yoy; komisi ATM yang meningkat 13,2% yoy; dan komisi bisnis kartu kredit tumbuh 10,6% yoy.

FBI juga ditopang oleh aktivitas pada Segmen Bisnis Banking yang menghasilkan komisi dari surat berharga yang tumbuh 86,9% yoy; komisi kredit sindikasi tumbuh 56,8% yoy; serta komisi trade finance yang meningkat 4,8% yoy. Akumulasi NII dengan FBI tersebut di atas membawa BNI sukses meraup Laba Operasional sebelum Pencadangan (PPOP) pada akhir tahun 2019 sebesar Rp 28,32 triliun atau tumbuh 5,0% yoy, dan membukukan laba bersih sebesar Rp 15,38 triliun atau meningkat 2,5% dibandingkan periode sebelumnya sebesar Rp 15,02 triliun.

Dari berbagai capain sukses itu, kemudian di Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Tahunan PT BNI (Persero) Tbk, menunjuk Herry Sidharta menjadi Direktur Utama perseroan menggantikan Achmad Baiquni. Lelaki kelahiran 1957 itu sebelumnya pernah menjabat Wakil Direktur Utama BNI. Herry menempuh pendidikan S1 di Universitas Pancasila Jurusan Manajemen Keuangan dan S2 di Rensselaer Polytechnic Institute, Amerika Serikat.(*)
 

 

Editor : Tudji Martudji