Tukang Cukur Keliling Pakai APD Tuai Simpati

harianmerahputih.id
AMAN: Suryadi menggunakan APD ketika melayani pelanggan di kawasan Kutisari. HMP/Zulfikar Firdaus.

MERAHPUTIH| Surabaya-Pandemi Covid-19 menghantam semua sektor. Termasuk perhotelan. Salah satu yang kena imbasnya adalah  Suryadi, warga Kutisari Selatan. Sebelumnya bapak dua anak ini bekerja sebagai karyawan hotel bintang lima di Surabaya.

 Kini, Yadi-panggilan karibnya menekuni usaha tukang cukur keliling. Menariknya, dalam menjalani profesi barunya, Yadi menggunakan Alat Pelindung Diri (APD). Meski APD yang dipakainya cukup membuatnya gerah, namun tak lantas membuatnya patah arang.

“Waktu muda saya punya pengalaman nyukur rambut teman-teman. Tapi tidak terlalu ahli karena waktu itu saya belajarnya otodidak,” kata Yadi mengawali ceritanya.

Setelah tidak lagi bekerja di hotel, Yadi mencoba untuk mempelajari lebih dalam soal potong rambut, termasuk teknik dan model potongan yang sedang tren. Yadi beserta istrinya berkeliling ke salon-salon ternama di Surabaya untuk kursus.  Tapi karena biaya kursus mahal, ia akhirnya sempat pikir-pikir.

Ia akhirnya menemukan tempat kursus di daerah Jojoran, Surabaya yang sesuai dengan kantongnya. Di tempat kursus itu, Yadi belajar model potongan pria dan wanita. Karena dasarnya Yadi berbakat, ia tidak membutuhkan waktu yang lama untuk belajar.

Setelah ilmunya dirasa cukup ia berhenti kursus. Tapi, ketika virus Corona makin merebak, ia sempat keder juga. Yadi bahkan sempat mengkarantina mandiri. Teman-temannya di komunitas barbershop sempat menanyakan hal itu.  

"Saya sampai ditelfon teman-teman komunitas barbershop, ditanya kenapa kok sampai karantina mandiri? Ya saya jelaskan kalau usia saya ada di usia rentan terpapar virus corona, apalagi pekerjaan saya ada kontak langsung dengan pelanggan," ungkapnya.

Oleh teman-temannya, Yadi disarankan untuk menggunakan APD lengkap agar bisa tetap bekerja, dan pelanggan pun merasa aman dengan pelayanan yang ia berikan. Sejak itu Yadi kembali berkeliling dengan menggunakan APD lengkap.

Namun, menggunakan APD lengkap saat mencukur rambut tak semulus angan-angannya. Sebab, banyaknya kampung yang menutup akses jalann membuatnya harus berkeliling lebih jauh dari biasanya.

"Biasanya ya di sekitaran Kutisari - Kendangsari, tapi sekarang ya sampai ke Tropodo, padahal saya sudah pakai APD tapi ya bagaimana lagi, itu sudah kebijakan warga buat membatasi akses masuk ke kampungnya," urainya.

Lama kelamaan Yadi mulai dikenal.  Mengenakan APD lengkap ketika bekerja membuatnya menuai banyak simpati dari masyarakat.  Seperti Arifin, bocah kelas VII yang tinggal di Kutisari  ditawari oleh budhenya untuk potong rambut karena ada tulisan "PSBB Diperpanjang, Potong Rambut Bayar Seikhlasnya." yang dipasang Yadi di pagar rumah warga.

Saat ditanya perihal tarif seikhlasnya, Yadi mengatakan bahwa dia memang tidak mematok tarif. "Hitung-hitung bentuk amal dan rasa syukur saya, di tengah pandemi seperti ini saya masih bisa bekerja dan menafkahi keluarga," jelas Yadi. (zul/ono)

 

Editor : Eko Yudiono

Politik
Berita Populer
Berita Terbaru