Didanai APBN, Proyek Fly Over Purwosari Solo Diduga Bermasalah

harianmerahputih.id
Kondisi proyek pembangunan proyek flyover Purwosari Solo, Jawa Tengah, yang didanai APB 104 miliar. (Foto HMP)

MERAH PUTIH | Solo – Proyek fisik yang didanai APBN kembali bermasalah. Setelah pembangunan Waduk Gongseng di Bojonegoro senilai Rp 150 miliar yang dikerjakan PT Hutama Karya itu molor dan diduga matrial tidak sesuai spec, kini proyek flyover Purwosari Solo, Jawa Tengah, yang menjadi sorotan. Proyek senilai Rp 104,6 miliar bersumber dari APBN 2020 ini dinilai bermasalah, lantaran kualitas beton yang dipasang kurang baik.

Warga mulai mengeluhkan proyek Flyover Purwosari yang dikerjakan PT Wijaya Karya ini. Sebab dampak proyek ini, Jl Slamet Riyadi dari pertigaan Kerten (RS Panti Waluyo) sampai simpang empat Purwosari (Omah Lowo), harus ditutup. Bahkan, penutupan ini dilakukan sejak 5 Februari lalu.

Selain itu, warga sekitar juga merasa tergangu dengan adanya pembuaggan limbah air tanah dan air ready mix. Padahal, lokasi proyek di tengah perkotaan pada penduduk. “Kami tidak pernah diberi tahu soal ini (ready mix, red),” ujar salah seorang warga yang menolak menyebut namanya ini saat ditemui harian Merah Putih di lokasi proyek, Rabu (13/5/2020).

Ready Mix merupakan istilah untuk beton yang telah di-blend dengan rangkaian bahan material terdiri dari pasir dengan formulasi khusus. Pengolahan ini dilakukan di Batching Plant hingga menjadi beton cor siap pakai.

Menurut warga yang mengenakan masker ini, warga yang tinggal di daerah Jalan Tegal Rejo Kelurahan Condakan Kecamatan Lawian ini menyesalkan hal itu tak disosialisasikan lebih dulu dengan warga.  “Lha ini ijin lingkungannya (Amdal/Ipal, red) bagaimana? Kan harus persetujuan warga dulu. Walikota (FX. Hadi Rudyatmo, red) harusnya ikut bertanggung jawab,” tandas pria paruh baya berrkaus lengan panjang ini.

Sementara itu, seorang pengusaha konstruksi yang melihat pengerjaan flyover ini kaget dengan kondisi proyek ini. Ia langsung menunjuk beton yang retak. “Ini kualitas betonnya kurang baik,” tandas kontraktor yang biasa mengerjakan proyek nasional ini.

Begitu juga pancang yang dinilainya tidak sesuai dengan speck. “Patah makanya dicor sambung lagi. Harusnya utuh, tidak boleh ada sambungan. Membahayakan ini,” imbuh dia.

Ia juga menyoroti produksi beton di lokasi proyek. Informasi yang diperolehnya, pejabat pembuat komitmen (PPK) pernah melarang adanya kegiatan produksi beton tersebut. Sebab mengganggu ketenagan dan menyangkut kesehatan warga sekitar. “Tetapi larangan PPK tidak dihiraukan PT pemenang lelang (PT Wijaya Karya, red),” ungkapnya.

“Di aturan tidak boleh (produksi beton di lokasi proyek, red). Apapun alasannya. Sebab peruntukannya salah. Bukan di perkotaan melainkan jauh dari pemukiman,” lanjutnya menegaskan.

Informasi yang dihimpun, berdasarkan data di LPSE (lpse.pu.go.id) pemenang lelang proyek Flyover Purwosari-Solo ini adalah PT Wijaya Karya (Wika). Nilai kontrak senilai Rp 104,6 miliar. Tepatnya Rp 104.672.483.694,61. Namun nilai jauh di bawah harga perkiraan sendiri (HP) yang dibuat PPK, yakni HPS 150.525.190.300,27. Ada selisih sekitar Rp 45,8 miliar.

Sedang pekerjaan sesuai kontrak kerja dimulai tanggal 8 Januari sampai tanggal 20 Desember 2020. Namun, target selesai 3 Desember 2020. “Ini juga diragukan selesai tepat waktu,” tuturnya.

Begitu juga soal nilai proyek yang jauh di bawah HPS. “Biasanya ini berdampak pada kualitas proyek,” pungkasnya.

Sebelumnya, PPK 1.6 Satker Pelaksanaan Jalan Nasional (PJN) Wilayah I Jawa Tengah, Alik Mustakim, mengatakan realisasi fisik hingga April sekitar 23 persen. "Kami sudah menjalani selama satu bulan. Mulai lebih awal dan berakhir lebih awal. Padahal biasanya, kami bisa selesai jam 23.00 atau bahkan jam 02.00 dini hari. Kendati begitu, kalau ada pengecoran bisa perpanjang juga sampai pukul 19.00 atau 20.00,” kata dia seperti dikutip Solopos.com.

Alik mengatakan akhir November sebenarnya adalah target internal Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). Sedangkan, target kontraktual tetap 20 Desember 2020.

Untuk diketahui, proyek flyover Purwosari menyasar jalan sepanjang hampir 2,5 kilometer dari Simpang Tiga Kleco hingga rel bengkong Purwosari. Lebar struktur badan jalan bersih sekitar 11,8 meter, terbagi menjadi dua lajur masing-masing 3,5 meter dibatasi dobel markah tengah berukuran 0,3 meter. Bahu kanan kiri jalan selebar dua meter dengan masing-masing jalur pedestrian selebar 60 sentimeter kiri kanan, kemudian diikuti rail link .

Pembangunan flyover ini akan melalui lima tahap. Pada tahap pertama, pembangunan flyover Purwosari dimulai dengan pemotongan 377 pohon di sekitar proyek flyover Purwosari selama Januari 2020 lalu.

Tahap kedua, pelaksana proyek akan mengerjakan borpile - pondasi dalam yang berbentuk tabung pada bagian barat perlintasan rel kereta api (KA) dan pengaspalan jalur lambat sisi timur-selatan yang dimulai pada awal Februari 2020.

Kemudian, tahap ketiga adalah pengerjaan timbunan mortar busa sisi barat dan borpile sisi timur. Tahap keempat, pekerjaan dibagi menjadi dua, yaitu penimbunan mortar busa sisi timur yang akan berlangsung pada Juli-September dan pengaspalan jalur lambat sisi timur-utara pada Juli-Agustus 2020.Terakhir tahap kelima adalah pengerjaan aspal jalur lambat sisi barat dan erection girder. (tim)

Editor : Ali Mahfud

Politik
Berita Populer
Berita Terbaru