Euforia Lebaran Usai, Ancaman Obesitas Mengintai: Pola Makan Perlu Kembali Dikendalikan

harianmerahputih.id
ilustrasi

MERAHPUTIH I SURABAYA – Usai merayakan Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah, masyarakat mulai kembali menjalani rutinitas harian, termasuk pola makan dan minum di siang hari. Namun, suasana pasca lebaran kerap diwarnai perubahan pola konsumsi yang cukup drastis. Setelah sebulan penuh berpuasa, momen lebaran justru menjadi ajang “balas dendam” bagi sebagian orang untuk menikmati beragam hidangan tanpa batas.

Aneka menu khas lebaran seperti opor, rendang, kue kering, hingga minuman manis tersaji melimpah. Kondisi ini seringkali mendorong seseorang untuk makan dalam porsi lebih besar dibanding hari-hari biasa. Tanpa disadari, kebiasaan tersebut berpotensi mengganggu pola hidup sehat yang sebelumnya terbentuk selama bulan Ramadan.

Baca juga: Arab Saudi Gerlar Buka Puasa Bersama dan Membagikan Kurma Sepanjang Bulan Ramadan

Dosen Fakultas Ilmu Kesehatan (FIK) Universitas Muhammadiyah Surabaya, Firman, mengingatkan bahwa perubahan pola makan yang tidak terkontrol pasca lebaran dapat berdampak serius bagi kesehatan.

“Ketika pola makan tidak teratur dan porsi makan terus meningkat, maka risiko obesitas akan semakin tinggi,” ujarnya.

Ia menjelaskan, obesitas merupakan kondisi penumpukan lemak berlebih dalam tubuh yang terjadi akibat ketidakseimbangan antara asupan energi dan energi yang digunakan untuk beraktivitas. Dalam kondisi ini, tubuh menerima lebih banyak kalori dibanding yang dibakar, sehingga kelebihan energi disimpan dalam bentuk lemak.

Mengacu pada laporan global tahun 2023, obesitas kini menjadi salah satu persoalan kesehatan utama di dunia. Sekitar dua miliar penduduk global terdampak kondisi ini. Bahkan, prevalensinya cenderung lebih tinggi pada perempuan dibandingkan laki-laki. Diproyeksikan pada tahun 2030, satu dari lima perempuan dan satu dari tujuh laki-laki di dunia akan hidup dengan obesitas.

“Obesitas juga menjadi faktor risiko berbagai penyakit tidak menular seperti diabetes melitus, penyakit jantung, hipertensi, gagal ginjal hingga kanker. Bahkan, kondisi ini berkontribusi terhadap sekitar 5,87 persen angka kematian global,” jelas Firman.

Baca juga: PERSIB Geser Latihan ke Malam Hari, Hodak Jaga Intensitas di Bulan Ramadan

Tak hanya berdampak pada kesehatan individu, obesitas juga menimbulkan beban ekonomi yang signifikan. Biaya pengobatan penyakit penyerta atau komorbid yang muncul akibat obesitas tidaklah sedikit, sehingga memerlukan perhatian serius dari berbagai pihak.

Untuk itu, Firman menekankan pentingnya menjaga kembali pola hidup sehat pasca lebaran. Ia membagikan beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan masyarakat untuk mencegah peningkatan berat badan.

Pertama, memenuhi kebutuhan protein harian. Asupan protein diketahui mampu meningkatkan metabolisme tubuh hingga 80–100 kalori per hari, sekaligus memberikan efek kenyang lebih lama sehingga dapat mengurangi kebiasaan ngemil.

Kedua, rutin melakukan aktivitas fisik. Olahraga ringan seperti jogging, senam, atau aktivitas lain sesuai kemampuan dapat membantu membakar kalori dan lemak. Disarankan untuk berolahraga setidaknya 30 menit per hari atau tiga hingga lima kali dalam sepekan.

Baca juga: Manisnya Berkah di Setiap Gigitan: Menyibak Ragam Kurma Favorit Ramadan

Ketiga, membatasi konsumsi makanan dan minuman tinggi gula. Minuman bersoda, jus kemasan, serta minuman manis lainnya sebaiknya dihindari karena dapat meningkatkan risiko penyakit seperti diabetes dan gangguan ginjal. Selain itu, konsumsi alkohol juga perlu dihindari.

Terakhir, menerapkan pola makan rendah karbohidrat. Metode ini dinilai efektif dalam mengontrol berat badan, bahkan dapat membantu menurunkan berat badan jika dilakukan dengan tepat.

“Menjaga pola hidup sehat sangat penting agar kita terhindar dari berbagai penyakit akibat pola makan yang buruk, terutama setelah momen lebaran,” pungkasnya.(sub)

Editor : Redaksi

Politik
Berita Populer
Berita Terbaru