MERAHPUTIH I SURABAYA – Pemerintah Provinsi Jawa Timur terus memperluas akses transportasi publik massal melalui pengembangan layanan Trans Jatim. Kali ini, Dinas Perhubungan (Dishub) Jawa Timur tengah mengkaji pembukaan koridor baru menuju Kabupaten Pasuruan dengan konsep berbeda, yakni menyasar kawasan industri dan pusat aktivitas pekerja tanpa mengganggu keberlangsungan angkutan umum yang telah lebih dulu beroperasi.
Langkah tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya menghadirkan transportasi publik yang terintegrasi, terjangkau, dan mampu menjawab kebutuhan mobilitas masyarakat, khususnya ribuan pekerja yang setiap hari beraktivitas di kawasan industri Pasuruan.
Baca juga: Pengambilan PIN Selesai, Dindik Jatim Minta Siswa Fokus Tahap Pendaftaran
Kepala Dinas Perhubungan Jawa Timur, Nyono, mengatakan kajian pengembangan layanan Trans Jatim ke Pasuruan masih terus berlangsung. Berbagai aspek sedang dipertimbangkan secara matang, mulai dari kebutuhan penumpang, kondisi lalu lintas, hingga dampaknya terhadap angkutan umum eksisting.
Menurutnya, Pemprov Jatim tidak ingin kehadiran layanan baru justru menimbulkan persaingan yang tidak sehat dengan moda transportasi yang selama ini melayani masyarakat.
“Pasuruan tetap kami kaji. Arahan kami adalah mencari jalur yang aman dan tidak sepenuhnya berada di jalan utama. Kami ingin masuk ke kawasan-kawasan industri sehingga layanan ini benar-benar menjawab kebutuhan para pekerja,” ujar Nyono saat ditemui di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Jumat (12/6/2026).
Nyono menjelaskan, karakteristik wilayah Pasuruan berbeda dibandingkan daerah lain yang telah dilayani Trans Jatim. Sebagian wilayahnya saat ini sudah mendapatkan manfaat dari Koridor 7 Trans Jatim yang menghubungkan Sidoarjo, Gempol, hingga Mojokerto.
Keberadaan koridor tersebut, kata dia, justru menciptakan efek positif terhadap moda transportasi lanjutan yang melayani rute menuju Pasuruan. Banyak penumpang memanfaatkan layanan penghubung setelah turun dari bus Trans Jatim di titik tertentu.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa sistem transportasi publik yang terintegrasi mampu menciptakan peluang ekonomi baru sekaligus meningkatkan jumlah pengguna angkutan umum secara keseluruhan.
“Penumpang Trans Jatim tumbuh karena ada kepastian layanan dan jadwal. Dampaknya, angkutan lanjutan dari Gempol ke Pasuruan juga ikut berkembang. Ini yang harus kami perhatikan agar tidak terjadi benturan kepentingan,” katanya.
Karena itu, Dishub Jatim mengambil pendekatan yang lebih hati-hati sebelum memutuskan pembukaan koridor baru. Dialog dan koordinasi dilakukan dengan berbagai pihak agar kebijakan yang diambil dapat mengakomodasi kepentingan seluruh pemangku kepentingan.
Sejumlah pertemuan telah dilakukan bersama paguyuban angkutan umum, pemerintah daerah, pelaku industri, hingga perwakilan masyarakat untuk menggali masukan terkait kebutuhan transportasi di wilayah Pasuruan.
Dalam kajian yang sedang berjalan, salah satu skenario yang dinilai paling memungkinkan adalah menghadirkan layanan Trans Jatim yang terkoneksi langsung dengan kawasan industri besar di Pasuruan. Skema tersebut dinilai dapat memberikan manfaat signifikan bagi para pekerja yang selama ini harus berganti kendaraan beberapa kali untuk mencapai lokasi kerja.
Melalui konsep itu, bus Trans Jatim tidak hanya berhenti di jalur utama, tetapi juga masuk ke jalur alternatif yang mendekati area industri. Dengan demikian, pekerja dapat turun lebih dekat ke lokasi pabrik sehingga waktu perjalanan menjadi lebih efisien.
Baca juga: Musda II P3RSI Jatim Soroti Tata Kelola Rusun, Dorong Sinergi Penghuni dan Pengembang
“Kami ingin transportasi publik benar-benar membantu buruh. Dari titik hub tertentu, bus bisa langsung masuk ke kawasan industri sehingga perjalanan lebih efisien dan tepat waktu,” jelas Nyono.
Pengembangan layanan menuju kawasan industri juga dinilai sejalan dengan pertumbuhan investasi di Pasuruan yang dalam beberapa tahun terakhir terus meningkat. Banyak perusahaan manufaktur, logistik, dan industri pengolahan yang beroperasi di wilayah tersebut dengan jumlah tenaga kerja yang sangat besar.
Keberadaan transportasi publik yang andal diyakini dapat membantu menekan biaya perjalanan pekerja sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap kendaraan pribadi. Dalam jangka panjang, langkah tersebut juga berpotensi mengurangi kepadatan lalu lintas dan emisi kendaraan di kawasan industri.
Selain fokus pada pengembangan koridor Pasuruan, Dishub Jatim juga memastikan ekspansi layanan Trans Jatim terus berlanjut di daerah lain. Salah satu proyek yang tengah dipersiapkan adalah pembukaan koridor baru di wilayah Malang.
Koridor tersebut ditargetkan mulai beroperasi pada tahun ini dan diproyeksikan menjadi salah satu hadiah spesial dalam rangka Hari Jadi Pemerintah Provinsi Jawa Timur yang diperingati pada Oktober mendatang.
“Untuk koridor Malang insyaallah siap tahun ini. Kami laporkan kepada Ibu Gubernur sebagai hadiah ulang tahun Pemprov Jawa Timur. Bahkan beliau berharap bisa lebih cepat,” ungkap Nyono.
Tak hanya memperluas jaringan layanan, Dishub Jatim juga mulai menyiapkan transformasi teknologi untuk meningkatkan kualitas pelayanan Trans Jatim melalui penerapan Intelligent Transport System (ITS).
Baca juga: Expo Konstruksi Jatim 2026 Jadi Ajang Sinergi Bangun Infrastruktur Berkelanjutan
Teknologi ITS merupakan sistem transportasi modern yang mengintegrasikan perangkat digital, sensor, dan manajemen lalu lintas secara real time. Melalui sistem tersebut, operasional angkutan umum dapat berlangsung lebih efisien dan terukur.
Beberapa fitur yang akan diterapkan antara lain pengaturan lampu lalu lintas berbasis sensor kendaraan, pemberian prioritas bagi bus Trans Jatim saat melintasi persimpangan, hingga integrasi dengan konsep jalan berkeselamatan yang mengedepankan keamanan pengguna jalan.
Dishub Jatim berencana menjadikan Koridor 1 sebagai proyek percontohan penerapan ITS karena memiliki tingkat okupansi penumpang tertinggi dibandingkan koridor lainnya. Jika implementasi berjalan sesuai harapan, sistem serupa akan diperluas secara bertahap ke seluruh jaringan Trans Jatim.
Menurut Nyono, pemanfaatan teknologi menjadi langkah penting untuk memastikan layanan transportasi publik mampu bersaing dengan kendaraan pribadi dari sisi kecepatan, ketepatan waktu, dan kenyamanan.
“Kami ingin satu koridor menjadi pilot project ITS. Sistem ini sudah banyak digunakan di negara maju dan akan membuat pelayanan angkutan umum lebih cepat, tepat waktu, dan nyaman bagi masyarakat,” pungkasnya.
Dengan kajian koridor Pasuruan yang terus dimatangkan, rencana ekspansi ke Malang, serta penerapan teknologi transportasi modern, Pemprov Jawa Timur menunjukkan komitmennya dalam membangun sistem transportasi publik yang semakin terintegrasi. Kehadiran Trans Jatim diharapkan tidak hanya menjadi sarana mobilitas masyarakat, tetapi juga mendukung pertumbuhan ekonomi, kawasan industri, dan peningkatan kualitas hidup warga di berbagai daerah.(pps)
Editor : Redaksi