MERAHPUTIH I SURABAYA – Pemerintah Kota Surabaya mempercepat penguatan layanan kesehatan melalui pengembangan sistem Satu Data Kesehatan Surabaya yang akan mengintegrasikan seluruh rumah sakit di Kota Pahlawan dalam satu platform digital.
Komitmen tersebut disampaikan Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, saat membuka Forum Koordinasi Rumah Sakit se-Surabaya yang dihadiri perwakilan 69 rumah sakit di Graha Sawunggaling, Balai Kota Surabaya, Kamis (25/6/2026).
Baca juga: SPMB SD Negeri Surabaya Tuntas, Seleksi SMP Masuki Jalur Afirmasi dan Mutasi
Eri menegaskan, sistem tersebut akan menghubungkan berbagai informasi penting, mulai dari ketersediaan dokter, tenaga kesehatan, ambulans, kapasitas tempat tidur, hingga data sebaran penyakit secara real time. Dengan data yang terintegrasi, seluruh pemangku kepentingan dapat mengambil langkah lebih cepat dan tepat dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.
“Ini bukan data milik pemerintah kota, tetapi milik bersama. Dengan satu data, semua rumah sakit bisa saling mendukung untuk pelayanan warga Surabaya,” ujarnya.
Menurut Eri, integrasi data juga menjadi fondasi penguatan sejumlah program kesehatan daerah, seperti Satu RW Satu Tenaga Kesehatan, Satu Kelurahan Satu Ambulans, serta layanan Tim Gerak Cepat (TGC) yang terhubung dengan Command Center 112.
Melalui sistem tersebut, petugas dapat langsung mengetahui rumah sakit yang masih memiliki kapasitas layanan sehingga pasien darurat tidak perlu berpindah-pindah saat membutuhkan penanganan medis.
Selain mempercepat proses rujukan, Satu Data Kesehatan juga dinilai penting untuk memetakan kebutuhan layanan kesehatan berdasarkan jumlah penduduk, kepesertaan BPJS, hingga potensi antrean pasien di setiap wilayah.
Baca juga: Antrean BBM Bersubsidi Mengular di Jatim, Pemprov Tunggu Keputusan Pemerintah Pusat
Eri menilai keterhubungan data menjadi pelajaran penting dari pengalaman pandemi Covid-19. Dengan sistem yang terintegrasi, pemerintah dapat lebih cepat mendeteksi lonjakan kasus penyakit dan menyiapkan langkah antisipasi.
“Kita bisa segera mengetahui wilayah yang terdampak dan kebutuhan yang harus disiapkan. Data kesehatan harus terhubung dan bisa diakses bersama,” katanya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Surabaya, dr. Billy Daniel Messakh, mengatakan forum koordinasi tersebut menjadi wadah memperkuat sinergi antar rumah sakit sekaligus meningkatkan mutu pelayanan kesehatan di Surabaya.
Baca juga: Surabaya Tinggalkan Karcis Parkir, Seluruh Transaksi Beralih ke Sistem Digital
Menurutnya, penguatan layanan kegawatdaruratan menjadi salah satu fokus utama. Berdasarkan data Dinkes Surabaya, laporan kesehatan merupakan panggilan terbanyak yang masuk ke layanan 112 dengan sekitar 37 ribu kasus trauma setiap tahun, belum termasuk kasus kedaruratan non-trauma.
“Dengan jumlah kasus sebesar itu, layanan kegawatdaruratan tidak mungkin hanya ditangani tiga rumah sakit milik Pemkot Surabaya. Karena itu keterlibatan seluruh rumah sakit sangat penting,” ujarnya.
Saat ini sistem Satu Data Kesehatan telah diterapkan di tiga rumah sakit milik Pemkot Surabaya, yakni RSUD dr. Soewandhie, RS Bhakti Dharma Husada, dan RSUD Eka Candrarini. Ke depan, sistem tersebut akan diperluas ke seluruh 69 rumah sakit yang beroperasi di Surabaya guna mewujudkan layanan kesehatan yang lebih cepat, tepat, dan terkoordinasi.(sub)
Editor : Redaksi