Pemkot Surabaya Tahan Gejolak Harga, Pasar Murah Digelar Rutin Usai Lebaran

MERAHPUTIH I SURABAYA – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya tancap gas menjaga stabilitas harga bahan pokok pasca Hari Raya Idulfitri 2026. Salah satu langkah konkret yang dilakukan adalah menggelar pasar murah secara rutin di berbagai kawasan permukiman warga.

Kepala Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah serta Perdagangan (Dinkopumdag) Surabaya, Mia Santi Dewi, mengatakan kegiatan ini mulai berjalan sejak akhir Maret dan akan terus dilaksanakan secara berkala setiap pekan.

“Pasar murah kami mulai di Kelurahan Ujung pada 31 Maret, dilanjutkan di Siwalankerto 1 April, dan Tembok Dukuh pada 2 April. Dalam satu minggu, kami gelar empat kali, dari Selasa hingga Jumat,” ujarnya, Rabu (1/4/2026).

Menurut Mia, langkah ini merupakan bagian dari strategi Pemkot Surabaya untuk mengantisipasi lonjakan harga yang kerap terjadi setelah momen lebaran. Selain menjaga ketersediaan bahan pokok penting (bapokting), pasar murah juga diharapkan mampu mendekatkan akses masyarakat terhadap kebutuhan sehari-hari dengan harga lebih ramah di kantong.

Beragam komoditas dijual dalam kegiatan tersebut, mulai dari beras, gula, minyak goreng, telur, daging ayam, hingga cabai dan bawang. Harga yang ditawarkan pun berada di bawah pasaran, bahkan lebih rendah dari Harga Eceran Tertinggi (HET).

Sebagai contoh, beras premium kemasan 5 kilogram dijual Rp72.000, lebih murah dibanding harga pasar yang bisa menembus Rp74.000. Gula pasir juga dilepas Rp17.000 per kilogram, lebih rendah dari harga umum yang mencapai Rp18.000.

Mia menegaskan, distribusi stok disesuaikan dengan kondisi wilayah. Kawasan dengan kepadatan penduduk tinggi mendapat suplai lebih banyak. “Rata-rata kami siapkan 50 sampai 100 paket per komoditas utama setiap hari,” jelasnya.

Pasar murah digelar di titik-titik strategis seperti balai RW, kantor kelurahan, hingga kecamatan, dengan penentuan lokasi melalui koordinasi bersama perangkat wilayah agar tepat sasaran.

Menariknya, kegiatan ini terbuka untuk seluruh masyarakat tanpa pembatasan domisili. Warga dari luar Surabaya pun diperbolehkan membeli tanpa syarat khusus. “Yang terpenting adalah ketersediaan barang dan stabilitas harga tetap terjaga,” tegas Mia.

Dalam pelaksanaannya, Pemkot juga menggandeng distributor bahan pokok dan koperasi guna memastikan rantai pasok tetap lancar dengan harga terjangkau. Dukungan lintas perangkat daerah turut dikerahkan, termasuk dalam distribusi logistik.

Langkah ini menjadi upaya konkret Pemkot Surabaya dalam menjaga daya beli masyarakat di tengah potensi fluktuasi harga pasca hari besar keagamaan.(SUB)

Editor : Redaksi