Luka di Gelora Bung Tomo: Harga Diri Persebaya Dipertaruhkan di Jepara
MERAHPUTIH I SURABAYA - Rasa pedih itu belum sepenuhnya hilang dari dada para penggawa Bajol Ijo. Kekalahan di kandang sendiri selalu punya makna lebih dari sekadar kehilangan tiga angka. Ia menyentuh harga diri, menyentuh kebanggaan, dan menyentuh ribuan hati yang memadati tribun. Itulah yang dirasakan skuad Persebaya Surabaya usai tumbang di hadapan publiknya sendiri.
Pada pekan ke-21 Super League, Persebaya menjamu Bhayangkara Presisi Lampung FC di Stadion Gelora Bung Tomo. Alih-alih berpesta, tuan rumah justru dipaksa menelan pil pahit dengan skor 1-2. Dua gol tim tamu di babak pertama membuat publik Surabaya terdiam, sebelum Mihailo Perovic memperkecil ketertinggalan pada menit ke-65. Namun waktu tak cukup untuk menyelamatkan keadaan.
Kekalahan itu terasa lebih menyakitkan karena memutus laju impresif 13 laga tak terkalahkan yang sebelumnya dibangun dengan susah payah. Rekor tersebut runtuh di depan mata para Bonek dan Bonita, suporter setia yang selalu menjadi napas tambahan bagi tim kebanggaan Kota Pahlawan.
Salah satu sosok yang paling merasakan luka itu adalah bek senior Leo Lelis. Pemain berusia 32 tahun tersebut tak menampik atmosfer ruang ganti selepas pertandingan dipenuhi emosi. Ada kecewa, ada marah, ada rasa tak terima. Namun, baginya, tenggelam dalam penyesalan bukanlah solusi.
“Ya, saya mencoba lebih fokus pada apa yang bisa saya tingkatkan dari diri saya sendiri. Ketika kami berlatih, saya mencoba memotivasi para pemain dan bekerja sama agar kami bisa berkembang lagi sebagai sebuah tim,” ujar Leo saat ditemui usai sesi latihan, Rabu (18/2).
Pernyataan itu bukan sekadar formalitas. Dalam beberapa hari terakhir, intensitas latihan meningkat. Transisi bertahan diperbaiki, komunikasi lini belakang diperketat, dan fokus kolektif dibangun ulang. Leo, sebagai pemain berpengalaman, mengambil peran lebih besar, bukan hanya sebagai tembok pertahanan, tetapi juga sebagai pemantik semangat di ruang ganti.
“Kekalahan adalah hal yang tidak menyenangkan. Jadi kami menantikan pertandingan berikutnya agar kami dapat mengubah situasi dan meraih tiga poin untuk membawa suasana positif bagi tim secepat mungkin,” tegasnya.
Kesempatan untuk bangkit datang pada pekan ke-22. Persebaya dijadwalkan bertandang ke markas Persijap Jepara di Stadion Gelora Bumi Kartini, Sabtu (21/2) malam WIB. Laga tandang ini diprediksi berlangsung ketat. Persijap dikenal tangguh saat bermain di kandang, sementara Persebaya datang dengan satu misi: menebus kegagalan.
Bagi Leo dan rekan-rekannya, jawaban terbaik atas kekalahan bukanlah retorika, melainkan kerja keras. Mereka sadar, konsistensi adalah kunci menjaga posisi di papan atas klasemen. Satu hasil buruk tak boleh berkembang menjadi tren negatif.
“Kami bekerja sangat keras karena jawaban terbaik untuk kekalahan adalah dengan bekerja keras, dan terus bekerja dengan lebih keras. Jadi kami mempersiapkan diri dengan sangat serius dan sebaik mungkin untuk pertandingan berikutnya,” pungkas Leo.
Kini, bola ada di kaki Bajol Ijo. Apakah luka di Gelora Bung Tomo akan menjadi awal kemunduran, atau justru titik balik kebangkitan? Jawabannya akan terhampar di Jepara. Yang pasti, Persebaya tak ingin membiarkan satu malam kelam menghapus kerja keras 13 pertandingan sebelumnya. Di sepak bola, seperti dalam hidup, jatuh adalah hal biasa—bangkitlah yang membedakan.(sub)
Editor : Redaksi
Harian Merah Putih