Di Era New Normal Bisnis Kopi Masih Prospek

Difi. A Johansyah saat Ngopi BI Jatim via virual (Foto: HMP/Anton)
Difi. A Johansyah saat Ngopi BI Jatim via virual (Foto: HMP/Anton)

MERAHPUTIH | SURABAYA - Bisnis kopi bukan semata bisnis food and bavarages (F&B) saja, namun merupakan bisnis kreatif dan salah satu bisnis yang paling prospektif sehingga di era new normal bisnis kopi tetap viral dan menjajanjikan.

Hal ini terungkap saat acara ‘Ngopi’ Bank Indonesia (BI) Jawa Timur via virtual, Rabu (17/6), Bahkan Kepala Kantor BI Jatim, Difi A. Johansyah menyebutkan berbisnis kopi di era new normal tetap menjanjikan, lantaran Kopi di Indonesia sangat kaya dan sesuai karakteristik daerah.

Difi berharap semakin banyak anak muda di Indonesia yang terjun di bisnis ini, karena memiliki pundi potensi yang besar untuk sukses. Salah satu analisisnya yakni penghasil kopi Indonesia memiliki beragam jenis dan rasa. Selain itu, penggemar kopi di negeri ini sangat banyak dan tidak mengenal batas usia, baik tua maupun muda, baik yang tinggal di desa, kampung hingga diperkotaan.

“Ini sudah modal besar bahwa bisnis kopi tidak akan pernah mati asal pandai mengolah dan menyajikan secara baik serta pandai memanfaatkan peluang,” jelas Difi

Berdasar ahlinya Ngopi dan pelaku bisnis kopi seperti James Prananto, Co Founder Kopi Kenanga, Omar Karim Prawiranegara, Co Founder Dua Coffee, dan Muhammad Aga, Barista & Founder Smith Coffee. Difi menegaskan, budaya ngopi tidak buruk, bahkan banyak manfaat yang bisa diperoleh.

“Jadi selain kita kumpul-kumpul ngopi bersama teman atau kolega, jangan lupa mengasah kreatifitas dan keterampilan. Banyak hal bisa dibicarakan dan di diskusikan pada saat ngopi bareng,” tandas penggemar kopi ini. Dia berharap, dengan digelarnya bincang-bincang secara digital tentang kopi ini bisnis kopi di Jawa Timur jadi berkembang dan kreatif.

Untuk menguatkan hal itu, James Prananto yang dikenal dengan konsep kopi susu gula aren mengaku untuk dapat bertahan di bisnis ini perlu memperhatikan beberapa hal, diantaranya faktor lokasi yang mendekati masyarakat, khususnya di commercial areas, dan memperhatikan pemilihan bahan baku yang berkualitas.

Menurut James, selain faktor penentuan lokasi yang mendekati masyarakat khususnya di commercial areas, juga perlu diperhatikan pemilihan bahan baku yang berkualitas sehingga Kopi Kenangan selalu dicari karena keunggulan produknya.

"Disamping itu, terdapat pula SOP untuk setiap pembuatan produk, kelengkapan toko hingga pelayanan. Di saat pandemi seperti ini, kunci untuk menjaring dan mempertahankan pelanggan adalah konsistensi produk dan layanan. Tips tambahan supaya dapat go internasional, tentu saja keunikan produk, khususnya kopi susu gula aren yang merupakan kopi style Indonesia," urainya.

Berbeda dengan Omar Karim, Co Founder Dua Kopi, Ia lebih mengutamakan fungsi sosial melalui bisnis kopinya (sociopreneur) untuk dapat membantu banyak unit ekonomi, misalnya petani dan UMKM.

"Cita-cita untuk membawa kearifan lokal kopi Indonesia ke luar negeri, bukan suatu hal yang dapat dilakukan instan. Owner selalu mengutamakan hospitality versi Dua Kopi yang melayani seperti di rumah sendiri," kata dia.

Omar bercerita bagaimana ekspansi Dua Kopi di US yang bermula dari pameran kopi dan mendapatkan antusiasme dari masyarakat setempat, dan dilanjutkan dengan riset yang komprehensif mengenai lokasi, preferensi customer dan regulasi di US.

"Sehingga akhirnya Dua Kopi dapat membuka cabang di Washington DC, yang direpresentasikan sebagai kedutaan casual untuk memperkenalkan Indonesia dan memberitakan Indonesia pada masyarakat US," pungkas Omar. (ton/tji)

Editor : Tudji Martudji